subakir

subakir

Jumat, 20 Desember 2013

Biografi Mahmud Sami al Barudi Basya ( Pengarang Diwan al Barudi)



Al Barudi mempunyai nama lengkap Mahmud Sami Pasha bin Hasan Husni Bek al Barudi yang lahir dikawasan Bakhirah tepatnya di desa Itay al Barud pada tahun 1838 M/1255 H.[1]  Semenjak kecil ia dibesarkan oleh keluarga Jarkasyi, ayahnya wafat saat ia berumur 7 tahun. Sejak saat itulah keluarga Jarkasyi sebagai sanak familinya mengambil alih kehidupan Barudi kecil,  mengasuhnya, serta membina pendidikannya. Menginjak masa remajanya pada umur 12 tahun al Barudi tertarik untuk menempuh dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kemiliteran dan lulus ketika usianya menginjak 26 tahun. Jabatan yang pernah disandangnya ialah sebagai mentri pertahanan dan mentri perwakafan. 
Kesuksesan karirnya dalam dunia militer di peroleh dengan kerja keras, dan ia memulainya dari bawah. Al Barudi dikenal sebagai seorang prajurit yang militan, sangat disiplin dan berpikir tajam, maka tidak heran bila dalam jangka waktu yang relatif singkat ia telah memperoleh pengetahuan yang mumpuni dalam dunia militer, menguasai banyak teori dan strategi-strategi kemiliteran secara komperhensif. Setelah lulus dari sekolahnya di Mesir, al Barudi dikirim menuju Paris dan Inggris untuk urusan militer. Pada tahun 1294 H ia di angkat sebagai komandan perwira. Pada tahun 1282 H/1879 M ia mengikuti sebuah perang di Semenanjung Kerit atas nama Mesir membantu Turki untuk melawan Rusia.[2]
Dalam dunia militer karirnya semakin melesat naik, pada tahun 1299 H al Barudi diangkat sebagai Perdana menteri di Mesir. Kesuksesan dan kecemerlangannya dalam dunia kemiliteran membuat banyak orang menjulukinya dengan sebutan Si Raja Pedang.
Ketika bangsa Arab mengadakan pemberontakan, al Barudi ditangkap  dan dibuang ke daerah Sarnadib (Sailan) selama  17 tahun. Dalam masa pembuangannya itu ia banyak merenung dan  merefleksikan diri tentang kehidupannya, walau pada akhirnya sebelum di bebaskan ia  terserang penyakit yang membuat kedua matanya buta. Setelah bebas ia dikembalikan lagi ke Mesir. Dan disana jugalah menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi al Barudi, ia meninggal dunia pada tahun 1904 M di Kairo.[3]
Menulusuri kehidupannya dalam dunia sastra itu tampak pada saat al Barudi masih kecil, semenjak ayahnya wafat (1845 M) ia hidup dalam kesunyian. Situasi dan keadaan tersebut mempunyai hikmah positif, ia memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca banyak buku. Al-Barudi saat itu sangat menyukai menelaah buku-buku sastra klasik terutama yang menyangkut dengan tema peperangan, patriotisme dan kepahlawanan. Dalam karya-karya sastranya kita bisa melihat keterpengaruhan al Barudi oleh para penyair pujaannya seperti Umrul Qais dan Ibnu Mutaz. Ketika ia merantau untuk beberapa kepentingan  ke Turki, saat itu ia memanfaatkan untuk mempelajari bahasa Turki terutama dalam bidang kesusastraannya, tentunya tanpa meninggalkan perhatiannya dalam sastra Arab.
Bakat dan kepiawaiannya dalam sastra Arab itu membawanya menjadi salah seorang tokoh penting dalam dunia sastra Arab. Jasanya yang paling besar adalah memecahkan kebuntuan para penyair pada masanya dari kejumudan dan kerusakan bahasa. Sejak berdirinya dinasti Ustmani sampai runtuhnya pada awal abad 18, peradaban bangsa Arab mengalami keterpurukan dalam berbagai bidang, termasuk menjurus ke bidang sastra yang menjadi cerminan kehidupan bangsanya. Pada masa Turki Ustmani, model puisinya sangat dangkal dan artifisial, mungkin dikarenakan bahasa Arab bercampur dengan dialek Ustmani yang sempit ditambah lagi pada masa itu pemerintah disibukkan dengan mengawasi hegemoni daerah taklukan Turki yang sangat luas, apalagi pada masa al Barudi banyak daerah Arab yang diduduki pemberontak, sehingga perhatian penguasa saat itu sangat kurang tentang memajukan keilmuaan dan peradaban khususnya dalam bidang sastra dan puisi Arab. 
Melihat realitas kejumudan dan kerusakan bahasa itulah al Barudi memberikan suatu pembaharuan dalam dunia sastra Arab. Pembaharuan al Barudi bisa di lihat dari meluasnya tema-tema lama dalam pembuatan puisi, dan itu bisa dikatakan berhasil, karena keberhasilan dalam dunia sastra bisa ditopang dari munculnya banyak tema/genre baru sehingga khazanah keilmuaannya menjadi beragam, terutama tema-tema lama yang meluas seperti tema ghazal (puisi cinta) yang di tambahi dengan nuansa cumbu rayu, hanin (kerinduan yang mendalam) dan fakher (berbangga-bangga) serta mengusung tema-tema baru sebagai hasil transformasi dengan keilmuan barat seperti tema nasionalisme, patriotisme, humanisme, dan tema sosial kedalam sastra Arab. Karena jasanya dalam perkembangan sastra Arab itulah ia desebut sebagai “Si Raja Pena”.[4]
Al Barudi menulis banyak sya’ir yang sangat indah dalam pengasingannya. Ia menuangkan perasaannya, diantaranya adalah kerinduan akan tanah air, keluarga dan sahabat, kepedihan, penderitaan, patriotisme, peperangan, juga peristiwa-peristiwa lainnya  yang ia alami. Sya’ir-sya’ir al Barudi sangat terpengaruh dengan para penyair seperti Hasan Bin Tsabit, Hatim Ath-Tha’i, Al-Mutanabbi, Abu Farasy, Asy-Syarif Ar-Radli dan yang lainnya, namun pengaruh Abu Farasy Al-Hamdani dan Al-Mutanabbi jauh lebih besar dibanding penyair lainnya.


[1] Udin Purkonudin, Biografi Sastrawan Arab: Mahmud Sami al Barudi, (Online:ukonpurkonudin.blogspot.com).
[2] Ibid.
[3] Mahmud Sami Al-Barudi, Diwan Al-Barudi, (Beirut: Dar Al-‘Audah, 1998), hal. 30.
[4] ___________, Mahmud Sami Al-Barudi, (Online: hffp://ar.wikipedia.org).

Beberapa Ulama' Besar Berbicara Tentang Bid'ah

“Bid’ah itu terbagi menjadi dua macam : segala sesuatu yang baru dan tidak sejalan dengan kitab, sunnah, atsar, ijma’ itu merupakan bid’ah dhalalah ( bid’ah yang sesat ). Sementara jika sesuatu yang baru itu tidak berseberangan dengan Al-Qur’an, hadits, atsar dan ijma’, maka sesuatu yang baru itu disebut bid’ah hasanah ( bid’ah yang baik ).”
( Imam Syafi’i )

“Ikutilah Sunnah rasul dengan penuh keimanan, jangan mengerjakan bid’ah, patuhlah selalu kepada Allah swt dan Rasulnya, janganlah melanggar. Junjung tinggi tauhid, jangan menyukutukan Allah swt, selalu sucikan Allah swt, dan jangan berburuk sangka kepadanya. Pertahankanlah kebenarannya, jangan ragu sedikitpun. Bersabarlah selalu, jangan menunjukkan ketidak sabaran. Beristiqomahlah dengan berharap kepadanya; bekerja samalah dalam ketaatan, jangan berpecah belah. Saling mencintailah, dan jangan saling mendendam.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

“Sesungguhnya terlalu memfasih-fasihkan bacaan adalah bid’ah. Andaikata salaf membaca Al-Qur’an seperti mereka yang suka memfasih-fasihkan bacaannya, tentu mereka tidak dapat menghatamkan Al-Qur’an dalam semalam.”
“Imam Ghazali juga pernah berkata bahwa hudhur dan khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an tidak mungkin dapat dirasakan oleh orang yang membaca Al-Qur’an dengan terlalu memfasihkan huruf dan memberi tekanan berlebihan pada tasyhid-tasyhidnya. Andaikata kalian curahkan seluruh konsentrasi kalian untuk merenungkan makna rahmat, pujian, rububiyyah, kekuasaan Allah SWT ( al-Malik) penghambaan, permohonan, permohonan hidayah, shirotol mustaqim yang ada dalam Fatihah, maka itu lebih baik.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Atthas dahulu melarang seseorang bergaul dengan Ahli bid’ah, orang-orang yang aqidahnya menyimpang dan orang-orang yang merendahkan kaum sholihin, Para Wali dan Ulama. Jika melewati tempat yang ada orang-orang yang memiliki salah satu sifat di atas, beliau menutupi kepalanya dan berjalan dengan cepat.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari (Pengasuh Pesantren Az-Zayn Al-Makki Al-’Ali Littafaqquh Fiddin)

Karena begitu banyaknya mahasiswa Al-Azhar yang belajar kepadanya, ia pun kemudian digelari Al-Azhar Ats-Tsani, “Al-Azhar Kedua”. Gelar itu merupakan ungkapan tulus dari para mahasiswa Universitas Al-Azhar sebagai penghormatan atas keluasan dan kedalaman ilmunya.

Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-BanjariSaat menerangkan beberapa kata sapaan, Syaikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Hasyiyah-nya menjelaskan, “syaikh” sebagai kata bermakna orang tua yang berumur empat puluh tahun lebih. Namun demikian, jangan dulu heran bila orang banyak telah menyebut tokoh kita ini dengan sebutan “syaikh” sejak muda sekali, bahkan sebelum berusia empat puluh tahun.
Apa pasal? Yang dikatakan orang banyak itu selaras belaka dengan apa yang disebutkan dalam sebuah maqalah, al-‘alimu syaikhun wa in kana shaghiran, wal-jahilu shaghirun wa in kana syaikhan – seorang yang alim adalah seorang “syaikh” sekalipun masih kecil/muda usia, dan seorang yang bodoh tetap sebagai seorang yang kecil sekalipun ia seorang syaikh (tua usianya). Tak mengherankan, tatkala sebuah penerbit di Mesir hendak mencetak ulang dan menerbitkan kitab manaqib Imam Syafi’i yang terbilang sangat lengkap, karya Ath-Thabari, Syaikh Nuruddin-lah yang didaulat untuk menyampaikan pengantar dalam kitab tersebut. Padahal, saat itu usianya masih berkepala tiga.
Hijrah ke Kota Suci
Ulama yang pada tahun 2010 ini genap berusia setengah abad ini lahir di Banjar, Kalimantan Selatan, pada 1 September 1960. Ia anak ketiga dari tujuh bersaudara. Pada mulanya ia belajar Al-Quran kepada neneknya, bibinya, dan kakaknya yang sulung. Tahun 1974, ia sekeluarga hijrah ke Makkah. Di kota suci ini ia meneruskan pendidikannya di Madrasah Shaulatiyah. Saat lulus di tahun 1982, ia mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Di samping belajar secara formal, ia juga menyempatkan diri mengikuti majelis pengajian yang bersifat non-formal di Masjidil Haram dan di kediaman para guru, terutama Al-Faqih Ad-Darrakah Syaikh Ismail Utsman Az-Zayn Al-Yamani. Syaikh Ismail Az-Zayn adalah seorang ulama yang dikenal luas kefaqihannya. Sebagai seorang guru, Syaikh Ismail tak pernah jemu untuk bersama-sama berkumpul dengan sekian banyak anak muridnya.
Syaikh Nuruddin banyak menimba ilmu dari Syaikh Ismail. Ia amat akrab dengan gurunya yang satu ini, selalu melazimi majelis-majelisnya, dalam maupun luar kota Makkah, dan sering pula bersama-sama dengan gurunya itu pada banyak kesempatan, misalnya untuk menziarahi makam Rasulullah SAW di kota Madinah. Syaikh Nuruddin senantiasa berhubungan dengan gurunya ini hingga sang guru wafat, pada 20 Dzulhijjah 1414, selepas shalat Subuh di Masjidil Haram.
Saat berziarah bersama Syaikh Ismail Az-Zayn, yang disebut-sebut sebagai guru yang amat mewarnai corak pemikirannya itu, biasanya ia mulai berangkat dari Makkah setelah shalat Subuh berjama’ah di Masjidil Haram pada hari Kamis dan kembali pulang ke Makkah seusai shalat Jum’at keesokan harinya. Selain menghadiri majelis-majelis Syaikh Ismail, ia sering pula menemani gurunya itu pada berbagai kesempatan dakwah. Ia meluangkan banyak waktunya untuk berkhidmat kepada Syaikh Ismail. Karena kedekatan dan khidmatnya kepada sang guru, ia pun kemudian dapat mendekati para ulama lainnya dan menimba ilmu dari mereka semua. Di antara mereka, sebut saja, Syaikhul ‘Ulama Sayyid Hasan Masysyath, yang juga sering bersama-sama dengan Syaikh Ismail Az-Zayn, yang wafatnya tepat di Hari Raya ‘Idul Fithri 1399 H. Selain itu juga kepada Syaikhul Hadits wa Musniduddunya Syaikh Yasin Al-Fadani. Kepadanya, Syaikh Nurudiin mengambil banyak riwayat dan ijazah, terutama riwayat hadits musalsal (hadits yang periwayatannya terus bersambung dari yang mengijazahkan riwayat sampai Rasulullah SAW) dan juga sanad berbagai kitab, termasuk kitab-kitab sanad yang ditulis Syaikh Yasin sendiri. Syaikh Yasin wafat pada malam Jum’at 28 Dzulqa’dah 1410 H dan dimakamkan di Pemakaman Ma’la, Makkah.
Selain Sayyid Hasan Masysyath dan Syaikh Yasin Al-Fadani, banyak lagi ulama-ulama besar yang ia datangi untuk menimba ilmu, seperti Syaikh Abdullah Sa’id Al-Lahji, Syaikh Abdul Karim Banjar, Syaikh Suhaili Al Anfenani, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Syaikh Sa’id Al-Bakistani, Syaikh Zakaria Bila. Semasa tinggal di kota Makkah itu, ia telah sering mengajar para pelajar asal Indonesia. Di antara kitab-kitab yang diajarkannya pada masa itu adalah Qatrunnada, Fathul Mu’in, ‘Umdatus Salik, Bidayatul Hidayah.
Al-Azhar Ats-Tsani
Tahun 1983, selepas dari Shaulatiyah, Makkah, Syaikh Nuruddin melanjutkan pelajarannya ke Universitas Al-Azhar, Kairo, dan masuk Fakultas Syari’ah sampai mendapat gelar sarjana muda. Kemudian, pada tahun 1990 ia meneruskan pendidikannya di Ma’had ‘Ali li Ad-Dirasat Al-Islamiyah di Zamalik, masih di Kairo, Mesir, hingga memperoleh gelar di tingkat dirasat ‘ulya, atau sarjana penuh perguruan tinggi. Sebagaimana sewaktu di Makkah, perburuan ilmunya kepada para ulama setempat terus berlanjut. Selama di Mesir, ia selalu memanfaatkan waktunya untuk menimba ilmu dari para ulama besar yang menetap di sana atau yang sempat berkunjung beberapa lama di Mesir. Di antara para ulama yang menjadi guru-gurunya saat ia tinggal di Mesir adalah Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf (mantan mufti Mesir), Syaikh Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi (pakar hadits), Syaikh Muntashir Al-Kattani Al-Maghribi (ulama besar asal Maroko), Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi (ulama besar Mesir yang amat berpengaruh), Syaikh Ali Jadul Haq (mantan syaikhul Azhar), Syaikh Muhammad Al-Ghazali (dai, pemikir, ulama kontemporer, dan tokoh pergerakan di Mesir). Masih banyak lagi guru-gurunya yang lain, yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh ulama puncak di negeri tempat mereka menetap.
Usai menamatkan pendidikan formalnya, ia semakin memfokuskan diri dalam mencurahkan ilmunya kepada ratusan pelajar Asia, khususnya Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Thailand, yang tengah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar. Majelis kajian yang ia asuh di sana sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1987, namanya Majlis Al-Banjari Littafaqquh Fiddin. Majelis itu dibuka di asrama pelajar Johor, asrama pelajar Pulau Pinang, dewan rumah Kedah, dewan rumah Kelantan, serta di Masjid Jami’ Al-Fath di sebuah kawasan bernama Madinah Nashr. Saat itu, karena begitu banyaknya mahasiswa Al-Azhar yang belajar kepadanya, ia pun kemudian digelari Al-Azhar Ats-Tsani, “Al-Azhar Kedua”. Gelar itu merupakan ungkapan tulus dari para mahasiswa Universitas Al-Azhar sebagai penghormatan atas keluasan dan kedalaman ilmunya.
Di samping mengajar, saat itu ia sudah mulai aktif menulis buku-buku agama berbahasa Arab dan Melayu. Sebagian kitab karyanya yang berbahasa Arab, saat ini sudah tersebar luas di Timur Tengah dan di sebagian negara Asia.

Sanad yang Bersambung
Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari (Pengasuh Pesantren Az-Zayn Al-Makki Al-’Ali Littafaqquh Fiddin)Di antara keistimewaan Syaikh Nuruddin, ia mewarisi metodologi pengajian yang berdasarkan ketersambungan sanad atau mata rantai keilmuan. Misalnya, dalam mempelajari hadits, hadits yang ia pelajari sampai silsilah periwayatannya hingga kepada Rasulullah SAW. Demikian pula saat ia mempelajari kitab-kitabnya para ulama, riwayat pembacaan kitab-kitab tersebut sampai silsilahnya kepada pengarang asal kitab, seperti Imam Syafi’i, Imam Suyuthi, Imam Nawawi, dan lain-lain. Di sinilah tampak kemurnian dan keberkahan ilmu yang berpindah dari generasi ke generasi.
Untuk mencapai prestasi keilmuan seperti itu, tentu dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Wajar saja memang bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam mencapainya, “Ini terkait dengan masalah tradisi para ulama salaf ketika hendak memberi syarah terhadap sebuah hadits. Kita harus tahu siapa orang yang mensyarah hadits, atau hasyiyah (catatan kaki). Sebab banyak orang bisa memahami (arti harfiah) sebuah hadits tapi tidak bisa mengungkapkan dan tidak tepat memaknainya.
Inilah min fawaidi at-talaqqi, sebagian manfaat ber-talaqqi (berada di bawah bimbingan langsung seorang syaikh), supaya kita memaknai hadits itu secara tepat. Walau tidak dijamin seratus persen, insya Allah, dengan bertalaqqi pemahaman kita tidak akan lepas dari maksud dan tujuan penulis. Jadi bisa kita katakan al-haqiqah ala ma’na shahih (pengertian sebenarnya dengan makna yang benar),” kata Syaikh Nuruddin sekali waktu saat mengomentari pentingnya masalah sanad dalam ilmu.
Mencetak Tunas Ulama
Tahun 1998 ia dipercaya mengajar di Ma’had Tarbiyah Islamiyah (MTI), Derang, Kedah, yang didirikan almarhum Ustadz Niamat bin Yusuf pada tahun 1980. Di Kedah, kehadirannya bagaikan hujan yang menyuburkan bumi yang telah lama kehausan akan siramannya. Ia pun kemudian menetap di MTI Derang hingga tahun 2002. Di sana ia menjadi tenaga pengajar utama dan tokoh ulama muda yang disegani. Selain mengajar di MTI, ia juga aktif mengadakan majelis-majelis ilmu dan ceramah bulanan atau mingguan di masjid-masjid, sekolah-sekolah, perayaan-perayaan keagamaan, bahkan dakwahnya telah bergema di hotel-hotel, lingkungan pejabat kerajaan (Kedah, Pulau Pinang, Perak, Kelantan, dan Terangganu).
Setiap kali majelisnya digelar, pesertanya terus bertambah. Mereka adalah para penimba ilmu yang berhasrat menimba ilmu atau menerima siraman ruhani darinya. Setelah empat tahun menabur bakti di bumi Kedah, ia pulang ke tempat asal kelahirannya, Kalimantan Selatan. Pada tahun 2004, ia pun mendirikan Pesantren Az-Zayn Al-Makki Al-’Ali Littafaqquh Fiddin di daerah Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Kata “Az-Zayn Al-Makki” pada nama pesantrennya merupakan nisbah kepada gurunya, Syaikh Ismail Utsman Az-Zayn Al-Makki, guru besarnya sewaktu ia menetap di kota Makkah. Di sinilah kini ia menetap dan mencetak tunas-tunas muda penerus perjuangan para ulama pewaris Nabi.
Sungguh beruntung negeri ini memiliki seorang ulama seperti Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari ini. Ia adalah gambaran sosok ulama yang istiqamah pada setiap apa yang dikerjakannya. Semangatnya luar biasa, tegas dalam prinsip, berdisiplin tinggi, berwibawa, dan selalu bersemangat dalam menyampaikan ilmu. Keistimewaan pribadinya juga tergambar dari rona wajahnya yang selalu berbinar ceria. Tak tampak ada rasa letih di wajahnya, meski kini waktu demi waktu ia habiskan untuk mengajar di banyak tempat, baik di pesantrennya sendiri maupun majelis-majelis rutin yang ia bina lainnya. Melihat jadwal mengajarnya saja, dalam dan luar negeri, tak sanggup rasanya seseorang terus berada bersamanya.
Tindak-tanduknya menunjukkan pribadi yang terpelihara oleh nilai-nilai adab yang mulia. Murid-muridnya pun memandangnya bukan hanya sebagai guru yang mencurahkan ilmu kepada mereka, tapi juga menuntun mereka dalam kemuliaan adab saat belajar. Dalam hal ini, Syaikh Nuruddin berpesan kepada mereka, “Akhlaq juga harus besar sebagaimana besarnya kitab-kitab yang kita pelajari. Dan beramallah, jangan sampai belajar di kelas tafaqquh (paham syari’at agama) tapi tak berminat untuk beramal.”
Di samping mengajar, sampai sekarang ia juga terus aktif membuahkan karya, baik mengarang maupun men-tahqiq (menelaah) kitab. Karyanya telah mencapai lebih dari 100 buku. Beberapa karyanya kini banyak dijadikan rujukan di beberapa perguruan tinggi, termasuk kitabnya, Qawa’id Fiqhiyyah, yang kini digunakan sebagai salah satu rujukan di Fakultas Syariah, di beberapa universitas di Malaysia. Begitu pula kaset-kaset, CD-CD MP3, VCD ceramah-ceramah dari majelisnya, risalah-risalah singkatnya. Hebatnya lagi, semua keuntungan hasil penjualan tidak diambil olehnya, tapi untuk kemanfaatan anak-anak muridnya saja.
(Pondok habib dari berbagai sumber)

Ahlul Bait

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد للّه رب العا لمين، ولا حول ولا قوة إلا با للّه، اللّهم صل و سلّم على
سيد نا محمّد مفتاح باب رحمة اللّه، صلاة و سلآم دائمين بدوام ملك اللّه، وعلى آله
و صحبه ومن والاه.

______________________________________________________________________
Ahlul-Bait (Bahasa Arab: أهل البيت) adalah istilah yang berarti "Orang Rumah" atau keluarga. Dalam tradisi Islam istilah itu mengarah kepada keluarga Muhammad. Terjadi perbedaan dalam penafsiran baik Muslim Syi'ah maupun Sunni. Syi'ah berpendapat bahwa Ahlul Bait mencakup lima orang yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husain sebagai anggota Ahlul Bait (di samping Muhammad). Sementara Sunni berpendapat bahwa Ahlul Bait adalah keluarga Muhammad dalam arti luas, meliputi istri-istri dan cucu-cucunya, hingga kadang-kadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantu-menantunya.


ا نّما يريد اللّه ليذهب عنكم الرّجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا.
( الأحزاب :33 )
“Sesungguhnya Allah swt hendak menghapuskan noda kotoran ( rijsun ) dari kalian Ahlul Bait dan Mensucikan sesuci-sucinya”
( Qs.Al-Ahzab : 33 )

قالوا أتعجبين من أمر اللّه رحمة اللّه و بركا ته عليكم أهل البيت إنه حميد مجيد.
( هود : 73 )
“Apakah engkau merasa heran atas ketetapan Allah? ( itulah ) rahmat Allah dan keberkahannya, dicurahkan atas kamu Ahlul Bait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji dan Maha Pemurah.”
( QS. Hud : 73 )

كلّ بنى أ نثى فإنّ عصبَتََهُمْ لأ بيهم ما خلا ولد فا طمة فإني أنا عصبتهم وأنا أبوهم. ( روه الطبرانى )

“Semua anak cucu Adam as ( anak turunan perempuan ) bernasabkan kepada ayah mereka, kecuali anak-anak Fathimah Az-Zahra. Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.”
( HR. Thabrani )

إنّ أولاد فا طمة و ذريّتهم يسمّون أبناه صلى اللّه عليه وسلم و ينسون إليه نسبة صحيحة. ( رواه الديلمى )

“Sesungguhnya anak-anak Fathimah Az-Zahra dan semua turunannya dinamakan anak kandung Rasulullah saw, karena nasab mereka adalah nasab dari Rasulullah saw yang shohih.”
( HR. Ad-Dailamy )

إقتدوا أهل بيتي من بعدي فإنهم عترتى خلقوا من طينتى ورزقوا فهمى وعلمى فويل للمكذّبين بفضلهم من أمتى القاطعين منهم صلتي لا أنزلهم اللّه شفا عتي يوم القيامة. ( رواه الطبرانى) "Ikutilah Ahlul Baitku di belakangku ( setelah wafatku ), karena mereka adalah Dzurriyatku ( keturunanku ) dan diciptakan Allah swt dari darah dagingku serta mereka dikaruniakan pengertian (kefahaman) dariku dan ilmuku. Celakalah bagi orang-orang yang mendustakan kemuliaannya mereka dari umatku dengan sengaja memutuskan hubungan darahnya denganku, maka jelaslah Allah Ta'ala tidak akan menurunkan syafa'atku.”
( HR. Thabrani )

أحبّوا اللّه لما يغذوكم به من نعمه وأحبّونى لحبّ اللّه وأحبّوا أهل بيتى لحبّى.
( رواه الترمذى عن إبن عبّا س )

“Cintailah Allah swt karena ia selalu memberi kamu nikmat-nikmatnya. Dan cintailah aku ( Nabi saw ) karena cintamu kepada Allah swt dan cintailah keluargaku karena cintamu kepadaku.”
( HR. Turmudzi dari Ibnu Abbas )

ارقبوا محمد صلّى اللّه عليه وسلّم فى اهل بيته. ( رواه البخارى )
“Hormatilah Muhammad saw dengan memuliakan Ahli Baitnya.”
( HR. Imam Bukhari )

مثل اهلي فيكم كسفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلّف عنها هلك.

“Ahli Baitku di tengah kalian ibarat Bahtera NUH, siapa menaikinya ia selamat dan siapa yang ketinggalan ia binasa.”
( Hadits Mutawatir : diriwayatkan banyak sahabat Nabi saw)

إنى تارك فيكم خليفتين : كتاب اللّه حبل ممدود مابين السماء والأرض وعترتى اهل وإنهما لن يفترقا حتّى يردا عليّ الحوض.( رواه أحمد، البخارى و مسلم )
“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara :KITABULLAH; yang merupakan tali antara langit dan bumi dan KETURUNANKU ( Ahlul Baitku ); sesungguhnya keduanya itu tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Telaga Haudh.”
( HR. Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim )



الا ايها النّاس إنما انا بشر يوشك أن يأ تي رسول اللّه ربّى فأجيب وإنّى تارك فيكم ثقتين. أوّلهما كتاب اللّه فيه الهدى والنّور فخذوا بكتاب اللّه واستمسكوا به فحثّ على كتاب اللّه ورغّب فيه ثمّ قال : وأهل بيتي. أذكركم اللّه فى أهل بيتي أذكركم اللّه فى أهل بيتي. أذكركم اللّه فى أهل بيتي.
( رواه المسلم )
“Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku adalah hamba Allah swt, utusan Tuhanku ( Malaikat Izroil ) hampir tiba, maka aku harus memenuhi panggilannya. Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara :KITABULLAH; didalamnya terdapat petunjuk juga pelita ( maka Rasulullah menyuruh berpedoman dan mengembalikan sandaran pada kitabullah ) Dan AHLUL BAITKU, aku akan ingatkan akan Allah swt perihal AHLUL BAITKU, aku ingatkan akan Allah swt perihal AHLUL BAITKU.”
( HR. Muslim )

إحفظوني فى أصحابي وأصهارى فمن حفظني فيهم حفظه اللّه فى الدّنيا والأخرة ومن لم يحفظني فيهم تخلّى اللّه منه ومن تخلّى اللّه منه اوشك أن يأخذه.
( رواه البغوى عن عياض )
“Jagalah kehormatanku didalam perihal sahabat-sahabatku dan orang-orang yang bersambung kefamilian denganku. Maka barangsiapa menjaga ( kehormatan ) aku dalam hal tentang mereka, Allah swt akan melihatnya di dunia dan di Akherat ( dengan pandangan rahmat ). Dan barangsiapa tidak menjaga kehormatanku dalam hal tentang mereka itu, maka Allah swt akan membiarkannya ( jauh dari pandangan rahmat ). Dan barangsiapa dibiarkan Allah swt, kelak tentu akan ditindak oleh Allah swt,”
( HR. Al-Baghawi dari ‘Iyadh Al-Anshori ra.)

لاتزول قدما عبد حتّى يسأل عن أربع : عن عمره فيم أفناه، وعن جسده فيم أبلاه وعن ماله فيم أنفقه ومن أين اكتسبه وعن حبّنا أهل بيتى. ( رواه الطبرانى )

“Dua kaki seorang hamba pada hari Qiyamat tak dapat bergerak hingga ia ditanya tentang empat perkara : untuk apa umurnya dihabiskan, untuk apa jasadnya ia rusakkan ( dipergunakan ), kemana hartanya ia infaqkan dan darimana ia peroleh, dan ditanya tentang kecintaannya terhadap Ahlul Bait.”
( HR. Thabrani )

ادّبوا اولادكم على ثلاث خصال : حبّ نبيّكم وحبّ اهلب بيته وقرأة القرآن فإن حملة القرآن فى ظلّ اللّه يوم لاظل إلاّ ظلّه مع انبيائه.
( رواه ديلمى ابوا نصر عبد الكريم )

“Didiklah anak-anakmu tiga perkara ini : Mencintai Nabimu; Mencintai Keluarga Nabi saw ( Ahlu Bait Nabi saw ) dan Membaca ( menghafal ) Al-Qur’an, karena orang-orang hafal Al-Qur’an itu nanti dapat naungan Allah swt, bersama para Nabi-Nabi dan Orang-orang pilihan Allah swt.”
(HR. Dylami abu Nashor Abdul Karim )


خيركم خيركم لأهلى من بعدى

“Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang-orang yang paling baik terhadap keluargaku sepeninggalku nanti.”
( HR. Abu Ya’la )

انا حرب لمن حاربتم وسلم لمن سا لمتم
( رواه احمد، التر مذى، إبن هباّن و الحكيم )
“Saya memerangi kepada orang-orang yang kalian perangi dan saya berdamai kepada orang-orang yang kalian ajak damai.”
( Sabda Nabi saw kepada Sayyidina Ali kw, Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husein ra : HR. Ahmad, Turmudzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim )

مابال أقوام يؤذونى فى نسبى و ذوى رحمى! ألامن أذى نسبى وذوى رحمى فقد أذانى ومن أذانى فقد أذى اللّه تعالى. ( رواه أصحاب السنن )

“Apa urusan suatu kaum menyakitiku, baik dalam nasabku maupun sanak kerabatku! Barangsiapa yang menyakiti nasabku dan sanak keluargaku, maka ia telah menyakitiku, dan barangsiapa menyakitiku maka ia telah menyakiti Allah swt.”
( HR. Thabrani dan Baihaqi )

كلّ سبب و نسب منقطع يوم القيامة إلاّ سببى ونسبى. ( رواه الطبرانى )

“Semua tali kekerabatan dan nasab pada hari kiamat nanti terputus kecuali tali kekerabatanku dan nasabku.”
( HR. Thabrani )

ياأهل بيت رسول اللّه حبّكم # فرض من اللّه في القرآن أنزله
كفاكم من عظيم القدر أنّكم # من لم يصلّ عليكم لا صلاة له
( قال الأمام شافعى )
“Wahai Keluarga Rasulullah saw, dalam Al-Qur’an Allah swt telah menetapkan bahwa kecintaan kami terhadap kalian adalah wajib. Cukuplah kemuliaan bagi kalian, bahwa yang tidak mengucapkan Sholawat kepada kalian dalam sholat, maka gugurlah sholatnya.”
( Imam Syafi’i dalam syairnya )

“Sesungguhnya orang yang mengenal kepada orang yang mulialah termasuk orang mulia.”
( Al-Hadits )


“Kemudian kitab itu ( Al-Qur’an ) kami wariskan kepada orang-orang dari hamba kami yang telah kami pilih.”
(QS. Faathir :32 )

“Ataukah mereka manusia ( masih ) merasa iri hati terhadap apa-apa yang telah diberikan Allah swt pada orang-orang ( yang merupakan ) karunianya.”
(QS. An-Nisa : 54 )

“Tiada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam ( bukan arab ), dan tiada kelebihan orang Ajam atas orang Arab, kecuali Taqwanya.”
( Al-Hadits )

”Karomah yang paling besar ialah istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT.” “Jangan heran pada orang yang bisa berjalan sangat cepat di bumi, atau bisa terbang di udara, atau berjalan di atas air. Karena sesungguhnya setan juga bisa melakukannya.”
( Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Jufri )

“Di dunia ini aku tidak pernah iri kepada seorang wali, raja atau lainnya; aku hanya iri kepada orang yang mengikuti salaf dan meneladani Nabi saw. Kebaikan terletak dalam mengikuti Salafus Saleh, mempelajari buku-buku mereka, dan meneladani ibadah, adab, akhlaq dan perilaku mereka. Orang yang mengikuti salaf tidak akan salah dan lelah.
( Al-Imam Al-Qutb Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-‘Aththas )

“Ikutilah Salaf! Barang siapa ingin beribadah kepada Allah swt, hendaknya bertanya bagaimana cara Salaf beribadah. Barang siapa ingin mengajar atau belajar, memberi manfaat atau mengambil manfaat, maka hendaknya ia bertanya bagaimana cara Salaf melakukan semua itu, dan tidak mengikuti jalan pikirannya sendiri.”
( Al-Imam Al-Qutb Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-‘Aththas )

“Musibah pertama yang menimpa masyarakat adalah peremehan mereka terhadap usaha menghafal Al-Qur’an. Musibah kedua adalah berpalingnya mereka dari buku-buku Salaf.”
( Al-Imam Al-Qutb Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-‘Aththas )

“Di antara hal yang mendorongku untuk menulis buku ini (Al-Qirthos fi Manaqibil ‘Atthas) adalah apa yang disebutkan pengarang kitab A’malut Tarikh : Barang siapa menulis seorang wali Allah SWT, maka kelak di hari kiamat ia akan bersamanya. Dan barang siapa membaca nama seorang wali Allah SWT dalam kitab Tarikh dengan rasa cinta, maka ia seakan-akan menziarahinya. Dan barang siapa menziarahi wali Allah SWT, maka semua dosanya akan diampuni Allah SWT, selama ia tidak mengganggu seorang muslim pun dalam perjalanannya.”
( Habib Ali bin Hasan Al-‘Atthas )


Sedikit demi sedikit Sejarah jawa terkuak(coba garis bawahi alqur'an dan ajaran jawa)



Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman

Indonesia selain dikenal sebagai pewaris Peradaban Benua Atlantis yang hilang, dikenal juga sebagai Pusat Peradaban Negeri Saba’

Ada pembahas...an yang cukup menarik dan sekaligus sangat menggelitik pikiranku, yaitu seperti yang pernah saya baca mengenai sebuah kajian tentang “INDONESIA NEGERI SABA” yang disampaikan oleh KH. Fahmi Basya, Beliau menggambarkan begitu detil sekali berawal dari pembahasaan Al-Qur’an Surat Saba’ ayat 18 sebagai berikut:

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah padanya beberapa malam dan siang dengan aman.
[QS. Saba'/34: 18]

Ya sebelum membahas Negeri Saba’, silahkan baca terlebih dahulu: Fakta Ilmiah: Benua Atlantis Yang Hilang Itu Ternyata Indonesia, karena nanti kita akan menemukan benang merahnya.!

Indonesia Negeri Saba’

Ternyata berdasarkan hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, bahwa sebenarnya “CANDI BOROBUDUR” adalah bangunan yang dibangun oleh “TENTARA NABI SULAIMAN” termasuk didalamnya dari kalangan bangsa Jin dan Setan yang disebut dalam Alqur’an sebagai “ARSY RATU SABA”, sejatinya PRINCES OF SABA atau “RATU BALQIS” adalah “RATU BOKO” yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa, sementara patung-patung di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Budha, sejatinya adalah patung model bidadara dalam sorga yang menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting. Dalam literatur Bani Israel dan Barat, bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting, tetapi faktanya justru Suku Jawa yang menjadi bangsa tukang dan berambut keriting ( perhatikan patung Nabi Sulaiman di Candi Borobudur ).

Hasil riset tersebut juga menyimpulkan bahwa “SUKU JAWA” disebut juga sebagai “BANI LUKMAN” karena menurut karakternya suku tersebut sesuai dengan ajaran-ajaran LUKMANUL HAKIM sebagaimana tertera dalam Alqur’an. Perlu diketahui bahwa satu-satunya nabi yang termaktub dalam Alqur’an, yang menggunakan nama depan SU hanya Nabi Sulaiman As dan negeri yang beliau wariskan ternyata secara kebetulan diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU yaitu Sukarno, Suharto, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta meninggalkan negeri bernama SLEMAN di Yogyakarta – Jawa Tengah. Nabi Sulaiman As mewarisi kerajaan dari Nabi Daud As yang dikatakan didalam Alqur’an dijadikan Khalifah di Bumi ( menjadi Penguasa Dunia dengan Benua Atlantis sebagai Pusat Peradabannya), Nabi Daud juga dikatakan raja yang mampu menaklukkan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah “SYAILENDRA” , menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata saila dan indra, saila = gunung dan indra = raja.

Jadi sebenarnya Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina bukan keturunan Israel asli yang hanya terdiri 12 suku, tapi mereka menamakan diri suku ke 13 yaitu Suku Khazar (yang asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan campur Bani Israel yang mengalami diaspora dengan penduduk lokal, posisi suku Khazar ini mayoritas di seluruh dunia. Sedang Yahudi asli Telah menghilang yang dikenal sebagai suku-suku yang hilang “The Lost Tribes” yang mana mereka pergi ke timur dan banyak yang menuju ke “THE PROMISED LAND” yaitu Indonesia.

Dan kalau kita merunut lagi kembali seperti apa yang telah disampaikan oleh KH. Fahmi Basya tentang Candi Borobudur, maka akan semakin tampak jelas bahwa ketika beliau menjelaskan tentang Negeri Saba’ disitu dikatakan bahwa sebuah pemerintahan yang sangat kuat karena dipimpin oleh Nabi Sulaiman As dan Ratu Balqis dari hasil riset dengan di dukung oleh data-data yang ada, maka terbukti bahwa NEGERI SABA’ itu adalah INDONESIA dengan pusat pemerintahan di Jawa dan ARSY SABA’ yang dipindahkan atas perintah Nabi Sulaiman As adalah Candi Borobudur yang dipindahkan dari Istana Ratu BOKO, dan NEGERI SABA’ inilah yang kemudian dikatakan oleh KH Fahmi Basya ada kemiripan antara Cerita dengan BENUA ATLANTIS yang hilang itu. Dan sungguh luar biasa kalau fakta itu benar, berarti Negeri ini telah mewarisi peradaban besar bangsa-bangsa.

Kembali ke pembahasan tentang NEGERI SABA’ ada 15 (lima belas) point penting yang menjadi bukti berdasarkan Al-Qur’an bahwa SABA’ itu ada di pulau Jawa (Indonesia) dan bukan di YAMAN!

1. Di buku-buku Ilmu Sejarah kita disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan pada abad ke-7 Masehi, tetapi menurut Teori paruh waktu , bahwa penelitian terhadap batu candi tersebut tidak bisa dihitung umurnya dengan Isotop C (Carbon). Sehingga bisa ditarik Hipotesa, bahwa Candi Borobudur tidak dibuat pada abad ke-7 Masehi.

Candi Borobudur

2. Adanya phenomena angka 19 di Candi Borobudur. Adapun mengenai phenomena angka 19 itu terdapat di dalam Alqur’an berasal dari kalimat Bismillaahirrah­maanirrahiim yang terdiri dari 19 huruf. Kalimat Bismillaahirrahmaanirrahiim ini yang memperkenalkannya kepada kita adalah nabi Sulaiman As. ketika beliau berkirim surat kepada Ratu Saba’

Kop Surat dari Surat nabi Sulaiman As itu adalah kalimat Bismillaahirrah­maanirrahiim .

Isi suratnya adalah: ” Alla ta’luu ‘alaiyya, wa’tuunni muslimiin ” ( Jangan menyombong kepadaku dan datanglah kepadaku dengan berserah diri ). Dan perlu diketahui surat itu sampai sekarang masih ada yaitu di Musium Nasional berupa lempengan emas bertuliskan Bismillah, surat itu awalnya ditemukan dikolam dekat Candi borobudur.

Lempengan emas bertuliskan kalimat ‘Bismillah”

Jadi, dapat dikatakan bahwa phenomena 19 itu sudah diketahui oleh Nabi Sulaiman As. Oleh sebab itu di Candi borobudur ada phenomena 19.

Phenomena angka 19

3. Adanya phenomena posisi tiga buah candi terletak segaris lurus, yaitu: Candi Borobudur, Pawon dan Mendut.

Karena yang membuat Candi Borobudur itu bukan manusia saja, tetapi juga Jin, maka segaris lurusnya tiga candi, yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut, bukanlah hal kebetulan. karena Jin bisa melihatnya dari atas.

Untuk apa mereka membuat ketiga candi itu segaris lurus?

Untuk membuat gambar Gerhana. Dengan demikian mereka memberitakan bahwa Borobudur itu gambar Matahari, Pawon itu gambar Bulan dan Mendut adalah gambar Bumi. Itu sebab Mendut mewakili Manusia. Disana ada sebuah patung Manusia sebagai wakil penduduk bumi adalah manusia.

Mengapa Borobudur itu gambar Matahari.? Karena Ya..si Ratu Saba’ itu dulunya kan penyembah Matahari, jadi ‘Arsy dia itu ada nuansa mataharinya.

4. Diceritakan pula di dalam Al-qur’an istananya berbentuk piring-piring dan patung-patung, sementara itu candi borobudur berbentuk piring dan banyak patung-patungnya, disinyalir patung Nabi Sulaiman As.

5. Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman As. dan Indonesia adalah negeri SABA yg diceritakan Al-qur’an dalam surat As-Saba (34). karenanya ada nama daerah Sleman di DI. Yogyakarta – Jawa Tengah yang diambil dari nama Nabi Sulaiman As.

Peta Sleman DI Yogyakarta

6. Sementara itu masih di kota Jogjakarta, tepatnya di daerah Prambanan ada candi ratu Boko yang di ambil dari nama Ratu Bulqo/Bilkis.

Candi ratu Boko

Kolam Pemandian di Candi ratu Boko

7. Di dalam Qur’an Surat As-Saba tanda-tanda daerahnya ada buah pahit, sementara disekitar candi borobudur ada buah: Mojo Pahit. bahkan sebuah kerajaan besar yang pernah jaya di pulau jawa dulu rela menamakan kerajaannya dengan nama Kerajaan Majapahit.

Peta Kesultanan Islam Majapahit

8. Lalu diceritakan di dalam Al-qur’an lagi: bahwa daerah Saba’ dikelilingi dua hutan, sementara itu Borobudur disana ada daerah Wanagiri dan WanaSABA, dimana dalam kamus bahasa jawa kawi; wana = hutan, saba = pertemuan.

9. Dimana seperti dalam Alqur’an Nabi Sulaiman menggunakan dua lembar kain dan kain yang luar adalah sutra seperti patung di candi yang terdapat lipatan sutra.

10. Diceritakan lagi di Nabi Sulaiman sering beristirahat dan berlibur di pantai sebelah timur negeri Saba, sementara di sebelah timur Indonesia deket papua ada pulau Solomon, yang di ambil dari nama Nabi Sulaiman As.

11. Relief-relief di candi mengambarkan cerita tentang Nabi Sulaiman diantaranya gambar burung yang mengantar surat kepada ratu Bilkis.

Sedangkan relief yang bergambar burung berkepala manusia, memberikan penjelasan bahwa burung hud-hud tersebut bisa berbicara dengan Nabi Sulaiman.

12. Di dalam Al-Qur’an surat As-Saba’ diceritakan negeri SABA telah di azab Allah karena penduduknya kufur dan tidak beriman, yaitu berupa dengan mengirim banjir besar yang menghancurkan negeri Saba’ menjadi berkeping-keping. Karenanya hanya Indonesia-lah satu-satunya negara di Dunia yang mempunyai 17.000 pulau lebih.

13. Indonesia adalah negeri SABA yang hilang, yang oleh Plato dan para ilmuwan barat diistilahkan benua Atlantis yang hilang.

14. Diantara Ribuan jumlah para Nabi, hanya Nabi Sulaiman As yang mempunyai nama Jawa yang berawalan “SU”, sebagaimana Suparmin, Suharto, Sukarno, Supratman, Sulistyono dll.

Nama jawa (Misal: SUbakir)

15. Adanya angin muson di Indonesia semakin menguatkan bukti bahwa Indonesia adalah negeri Saba’.

Dan masih banyak lagi fakta-faktanya yang lain.!

Nah kalau hasil penelitian ini benar adanya, bahwa yanag dimaksud dengan Negeri Saba’ adalah Indonesia hasil peninggalan Nabi Sulaiman As dan Ratu Bulqis. Sungguh luar biasa bangsa ini, kita telah mewarisi peradaban yang mulia itersebut. Wallahu ‘alam bissawaab.

Biografi Al Imam Muhammad al Baqir

Rasulullah SAW pernah berkata kepada Jabir bin Abdullah: ‘Pada suatu saat nanti, dia (yaitu Al-Husain) akan mempunyai seorang putra yang bernama Ali (Zainal Abidin). Jika hari kiamat datang, akan terdengar seruan, ‘Berdirilah wahai pemuka para ahli ibadah.’ Maka kemudian putranya (yaitu Ali-Zainal Abidin) itu akan bangun. Kemudian dia (yaitu Ali Zainal Abidin) akan mempunyai seorang putra yang bernama Muhammad. Jika engkau sempat menjumpainya, wahai Jabir, maka sampaikan salam dariku.’

dari kiri ke kanan: Imam Hasan ra, Imam Zainal Abidin, Imam Muhammad Al Baqir, Imam Ja’far Shodiq
dari kiri ke kanan: Imam Hasan ra, Imam Zainal Abidin, Imam Muhammad Al Baqir, Imam Ja’far Shodiq
Nama lengkap dan silsilah beliau adalah Al-Imam Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib Al- Qurosyi Al- Hasyimi (Rodliallaahu ‘anhum). Beliau lahir di kota Madiinatul Munawwaroh hari Jum’at 12 safar Tahun 57 H/676M dalam riwayat lain ada yang mengatakan 1 Rajab 57H.
Ayah nya dan sekaligus gurunya adalah Imam ‘Ali Zainal ‘Aabidiin yang selamat dari tragedi karbala, putra dari Sayyid Syuhadaa’ Sayyidinaa Husain bin ‘Ali bin Abi Thaalib (Rodliallaahu ‘anhum) Dan ibu nya adalah Sayyidah Faathimah binti hasan bin ‘Ali (Radhiallaahu ‘anhum). Dari pernikahan ini, maka lahirlah generasi pertama Ahlul Bayt yang kedua duanya bertemu, baik dari jalur Imam Hasan maupun Imam Husain, bertemu pada Sayyidina ‘Ali Karomallaahu wajhah maupun Sayyidaatinaa Fathimah Az-Zahroo putri Rosuulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam..
Nama panggilan beliau adalah Abu Ja’far. Meski beliau diberi banyak gelar seperti Abu ‘Abdullah,Imam Muhammad Al-Baqir, Maulana AL-Baqir AL-’Uluum, panggilan yang umum dikenal dan digunakan adalah Imam Muhammad Al-Baqir. Al-Baqir kata harfiah artinya memotong/membelah. Digelari Al-Baqir (yang membelah bumi) karena kapasitas keilmuan beliau yang begitu mendalam sehingga diibaratkan dapat membelah bumi dan mengeluarkan isinya yang berupa pengetahuan-pengetahuan (Al-Baqir Al-’Uluum). Mereka yang beruntung bertemu dan bertanya dengan beliau pasti akan puas, karena beliau membuka pengetahuan sampai ke akar akar nya, sampai ke asal usul nya, dan kemudian menyampaikan pengetahuan itu pada masyarakat luas. Dan yang pasti namanya harum dan tersohor sampai ke seantaro pelosok negri khusus nya jazirah arab kala itu..
Selama 34 Tahun beliau berada dalam perlindungan dan didikan ayahnya, Ali Zainal Abidin a.s. Selama hidupnya beliau tinggal di kota Madinah dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT serta membimbing masyarakat ke jalan yang lurus.
Al-Imam Ibnu Al-Madiny meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah (Radhiallaahu ‘anhumaa) bahwasannya Jabir berkata kepada Imam Muhammad Al-Baqir yang pada waktu itu masih kecil, “Rasulullah SAW mengirimkan salam untukmu.” Beliau bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?.”Jabir menjawab, “Pada suatu hari saya sedang duduk bersama Rasulullah SAW, sedangkan Al-Husain (cucu beliau) lagi bermain-main di pangkuan beliau. Kemudian Rasulullah SAW berkata, ‘Pada suatu saat nanti, dia (yaitu Al-Husain) akan mempunyai seorang putra yang bernama Ali (Zainal Abidin). Jika hari kiamat datang, akan terdengar seruan, ‘Berdirilah wahai pemuka para ahli ibadah.’ Maka kemudian putranya (yaitu Ali-Zainal Abidin) itu akan bangun. Kemudian dia (yaitu Ali Zainal Abidin) akan mempunyai seorang putra yang bernama Muhammad. Jika engkau sempat menjumpainya, wahai Jabir, maka sampaikan salam dariku.’
Mengenai keilmuan dan ketaatannya, kita semak kata-kata Ahmad lbnu Hajar Al-Makki al-Haitami Rahmatullaahi ‘alaih, seorang ulama sunni ,beliau mengatakan dalam kitab nya “AS-SAWAA’IQ AL-MUHRIQO”:
“Imam Muhammad AL-Baqir telah menyingkapkan rahasia-rahasia pengetahuan dan kebijaksanaan, serta membentangkan prinsip-prinsip spiritual dan agama. Tak seorangpun dapat menyangkal keperibadiannya yang mulia, pengetahuan yang diberikan Allah, kearifan yang dikaruniakan oleh Allah dan tanggung jawab serta rasa syukurnya terhadap penyebaran pengetahuan. Beliau adalah seorang yang suci dan pemimpin spiritual yang sangat berbakat. Dan atas dasar inilah beliau terkenal dengan gelar Al-baqir yang berarti pengurai ilmu. Beliau baik hati, bersih dalam keperibadian, suci jiwa, dan bersifat mulia. Imam mencurahkan seluruh waktunya dalam ketaatan kepada Allah (dan mempertahankan ajaran-ajaran nabi suci dan keturunannya). Adalah di luar kekuasaan manusia untuk menghitung pengaruh yang mendalam dan ilmu dan bimbingan yang diwariskanoleh Imam pada hati orang-orang beriman. Ucapan-ucapan beliau tentang kesalehan,  pengetahuan dan kebijaksanaan, amalan dan ketaatan kepada Allah, begitu banyak sehingga isi kitab ini sungguh tidak cukup untuk meliput semuanya itu”.
Diriwayat kan bahwasanya Raja pernah memanggil beliau ke pengadilan yang di maksudkan untuk mencelakai beliau, tatkala Imam Al-Baqir muncul mendadak raja mengurungkan niat nya, meminta ma’af kepadanya, dan banyak hadiah yang diterima beliau, lalu di antarkan ke keluarga bani hasyim dengan cara yang terhormat. Ada yang menimpali dan bertanya kepada raja mengapa dia berbuat seperti ini, maka raja mengatakan: Ketika dia (Imam Al-Baqir) datang, aku melihat dua singa yang sangat besar, satu di sebelah kanan nya dan satu yang lain berada di sebelah kiri nya yang mengancam ku untuk membunuh ku jika aku berencana mencelakai Al-Baqir. Ya, beliaulah waliyullah yang di beri keistimewaan oleh Allah dan sebagai wali nya untuk menyeru umat manusia ke jalan yang benar. Wali Qutub, yang memegang porosnya dunia,,, Saya pernah mendengar dari Al-habib Muhammad Luthfi bin yahya bahwa tak sembarangan untuk menjadi wali Qutub, beliau haruslah seorang yang bersambung silsilah nya baik dari ayah atau ibu nya ke Rosuulullaah, inilah yang di namakan segitiga emas, dan jabatan inilah yang sedang di pegang oleh Al-Imam Muhammad Al-Baqir..
Al-Baqir Muhammad bin Ali bin al-Husain adalah penerus dari ayahnya, Ali Zainal Abidin bin al-Husain, dan orang yang meneruskan posisi imamah setelahnya. Dia melebihi saudara-saudaranya dalam bidang ilmu keagamaan, kesederhanaan dan kepemimpinan. Dan mereka semua tak dapat menggantikan posisinya, karena posisinya yang berkaitan dengan imamah, karena kedudukannya di mata Allah SWT, dan karena posisinya sebagai khalifah Rasulullah SAW. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada beliau. Dia adalah orang yang paling dikenal di antara mereka, satu-satunya yang dihormati baik oleh non-Syiah dan Syi’ah sendiri, dan yang paling mampu di antara mereka. Tidak ada satupun keturunan dari al-Hasan dan al-Husain a.s. menunjukkan kemampuan yang sama dalam pengetahuan keagamaan, tradisi, sunnah-sunnah, pengetahuan tentang Qur’an , kehidupan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, dan teknik kesusastraan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir) Radhiallaahu ‘anhu. Dia adalah pemimpin dari seluruh keluarga Bani Hasyim. Dia adalah pemimpin dari seluruh keturunan Ali. Sahabat-sahabat Rasulullah S.A.W, para tabi’in, dan ulama-ulama muslim mengatakan banyaknya prinsip-prinsip keagamaan di bawah kepemimpinan Imam al-Baqir. Dengan kelebihan moral dan perilakunya dia menjadi tolak ukur dalam pengetahuan di keluarganya dan masyarakatnya.
As-Syibli Nu’mani rahmatullaahi ‘alaih menyebutkan dalam kitab nya “SIRAH AN-NU’MANI”: Ahlul bait adalah sumber dari hadits hadits, fiqh, bahkan semua cabang ilmu agama, dan ini seluruhnya terdapat dalam diri seorang Muhammad Al-Baqir, karena beliau memiliki pengetahuan yang besar dan luas sekali terhadap Al-Qur’an dan sunnah sunnah (hadits) Rosuulullaah.. Banyak dari para tabi’iin, Tabi’it tabi’iin, Fuqohaa’, dan mujtahidiin yang bertanya tentang ilmu ilmu agama kepada beliau. Namanya banyak kita temui dalam sanad hadits hadits shohih. Beliau juga dikenal sebagai penyampai Sirah Nabawiyyah pri kehidupan baginda Rasulullah  Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam serta keluarganya kepada yang lain. Beliau mencatat kembali kejadian-kejadian dari bermulanya sejarah (mubtada’) dan kehidupan Rasulullah SAW. Kisah tentang kehidupan Rasulullah S.A.W (maghazi) dicatat dibawah kepemimpinannya. Rakyat mengikuti ajaran dari Rasulullah SAW secara murni dibawah kepemimpinannya dan bersandar kepadanya tentang ritual-ritual keagamaan dan haji yang dipelajarinya langsung dari utusan Allah SWT. Baik kaum Syiah maupun bukan syiah mengikuti kepemimpinannya. Orang-orang banyak belajar ilmu kalam darinya. Dan beliau di akui sebagai salah satu Fuqohaa’ yang masyhur dari Madinah, seorang laki laki terpelajar  yang datang untuk menjawab semua persoalan yang ada. Sebuah kutipan terkenal ketika beliau ditanya tentang Surah An-nahl 43 yang bunyinya FAS’ALUU AHLADZ-DZIKRI IN KUNTUM LAA TA’LAMUUN,  tanyakan lah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui… maka jawabnya “Kamilah ahli dzikr..
Para Sholihin dari kalangan ahlul bait tidak pernah mengejar dunia, juga tidak punya keinginan untuk hal kehidupan duniawi, mereka mencurahkan waktu dan hidupnya untuk melayani umat, mencari keridhoan Allah Ta’ala semata. Sebagaimana dalam pri kehidupan nya Imam Muhammad Al-baqir , karena beliau terkenal tidak hanya karena pengetahuan nya yang luas, tetapi juga karena kesholihan beliau, beliau menempatkan ibadah lebih dari segalanya. Imam Abul Hasan Ali bin ‘Utsman Al-Hujwairi rahmatullaahi ‘Alaih dan Qodhi Abu Iyad bin Musa Fazl Al-yahsubi Rahmatullaahi ‘Alaih menyebutkan dalam karya nya masing masing “AL-KASYF AL-MAHJUUB dan AS-SYIFAA’ ” bahwa Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir Radhiallaahu ‘Anhu adalah seorang muslim yang sangat ta’at dan selalu menghabiskan waktu waktunya untuk beribadah kepada Allah. Beliau menghabiskan sebagian besar malam itu untuk beribadah dan memuliakan Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagai hasil dari pengabdian nya kepada Allah, beliau di anugrahi banyak keluasan ilmu, sehingga diberkahi dengan pengetahuan baik secara rahasia (ma’rifat) maupun yang nyata (syari’at) dari disiplin ilmu agama secara keseluruhan.
Imam al-Baqir dikenal sebagai orang yang bersahaja dan sangat baik hati dan pemurah kepada yang memerlukan. Telah dilaporkan di bawah kepemimpinannya, dibawah kepemimpinan ayah-ayahnya, bahwa Rasulullah dan keluarga beliau sering berkata, “Hal yang terbaik dari pekerjaan ada tiga: menjaga saudara dengan harta, memberi keadilan kepada orang lain, dan menyebut nama Allah pada setiap saat.” Beliau jika tertawa, beliau berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau timpakan murka-Mu kepadaku. ”Beliau adalah seorang yang mencintai dua orang yang agung, yaitu Abubakar dan Umar (semoga Allah meridhoi mereka berdua).
Imam Baqir pernah berkata,”Rakyat telah menyebabkan banyak masalah bagi kami. Kami menyeru kepada mereka tapi mereka tidak perduli. Tapi jika kami tinggalkan, tidak akan ada yang membimbing.” Imam juga pernah berkata,”Apa sebenarnya yang dibenci oleh mereka terhadap kami yang merupakan anggota keluarga dari Keluarga yang disucikan, keturunan dari kenabian, sumber kebajikan”
Mengenai situasi pemerintahan yang terjadi di zaman beliau, dua tahun pertama dipimpin oleh Al-Walid bin Abdul Malik yang sangat memusuhi keluarga nabi dan dialah yang memprakarsai pembunuhan Ali Zainal Abidin. Dua tahun berikutnya beliau juga hidup bersama raja Sulaiman bin Abdul Malik yang sama jahat dan durjananya dengan selainnya, yang seandainya dibandingkan maka dia jauh lebih bejat dari penguasa Bani Umayyah yang sebelumnya. Kemudian tampuk kepemimpinan berpindah ke tangan Umar bin Abdul Aziz, seorang penguasa Bani Umayyah yang bijaksana dan lain dari selainnya. Beliaulah yang menghapus kebiasaan melaknat Imam Ali bin Abi Thalib di setiap mimbar Jum’at, yang diprakarsai oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dan telah berjalan kurang lebih 70 tahun. Beliau pula yang mengembalikan tanah Fadak kepada Ahlu Bait Nabi yang pada waktu itu diwakili Imam Muhammad aL-Baqir. Namun sayang beliau tidak berumur panjang dan pemerintahannya hanya berjalan tidak lebih dari dua tahun lima bulan. Pemerintahan kemudian beralih ke tangan seorang pemimpin yang laim yaitu Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan.
Pemerintahan Hisyam diwarnai dengan kebejatan moral serta pengejaran dan pembunuhan terhadap para pengikut Ahlu Bait. Zaid bin Ali seorang keluarga rasul yang Alim dan syahid gugur di zaman ini. Hisyam kemudian memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan markas-markas Islam yang dipimpin oleh Imam Baqir . Salah seorang murid Imam al-Baqir yang bernama Jabir al-Ja’fi juga tidak luput dari sasaran pembunuhan. Namun, demi keselamatannya Imam Muhammad al-Baqir menyuruhnya agar pura-pura gila. Beliau pun menerima saran dari Imam dan selamat dari ancaman pembunuhan, karena penguasa setempat mengurungkan niatnya setelah yakin bahwa Jabir benar-henar gila.
Ketika semua makar dan kejahatan yang telah ditempuh untuk menjatuhkan Imam Muhammad AL-Baqir tidak berhasil, sementara orang-orang semakin yakin akan keimamahannya, maka Bani Umayyah tidak punya alternatif lain kecuali pada tanggal 7 Zulhijjah 114 H, ketika Imam Al-Baqir berusia 57 tahun, Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan si penguasa yang zalim, menjadikan imam syahid dengan meracuninya, dan jenazahnya dibaringkan di Jannatul Baqi’ Madinah.
Ahlul Bait Nabi s.a.w berguguran satu demi satu demi mengharap ridha dari Allah SWT. Semoga salam dilimpahkan kepada mereka ketika mereka dilahirkan, di saat mereka berangkat menghadap Tuhannya, dan saat dibangkitkan kelak.
______________________________
Dari sebagian kalam mutiara beliau adalah:
Jika engkau menginginkan suatu kenikmatan itu terus padamu, maka perbanyaklah mensyukurinya. Jika engkau merasa rejeki itu datangnya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Jika engkau ditimpa kesedihan, maka perbanyaklah ucapan ‘Laa haula wa laa quwwata illaa billah’. Jika engkau takut pada suatu kaum, ucapkanlah, ‘Hasbunallah wa ni’mal wakiil’. Jika engkau kagum terhadap sesuatu, ucapkanlah, ‘Maa syaa’allah, laa quwwata illaa billah’. Jika engkau dikhianati, ucapkanlah, ‘Wa ufawwidhu amrii ilaallah, innaallaha bashiirun bil ‘ibaad’. Jika engkau ditimpa kesumpekan, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illaa Anta, Subhaanaka innii kuntu minadz dzolimiin.’
Tidaklah hati seseorang dimasuki unsur sifat sombong, kecuali akalnya akan berkurang sebanyak unsur kesombongan yang masuk atau bahkan lebih.”
Sesungguhnya petir itu dapat menyambar seorang mukmin atau bukan, akan tetapi tak akan menyambar seorang yang berdzikir.”
Tidak ada ibadah yang lebih utama daripada menjaga perut dan kemaluan.”
Seburuk-buruknya seorang teman itu adalah seseorang yang hanya menemanimu ketika kamu kaya dan meninggalkanmu ketika kamu miskin.”
Kenalkanlah rasa kasih-sayang di dalam hati saudaramu dengan cara engkau memperkenalkannya dulu di dalam hatimu.”
Diantara kalam mutiara beliau yang lain, saat beliau berkata kepada putranya,
Wahai putraku, hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya adalah kunci setiap keburukan. Sesungguhnya engkau jika malas, maka engkau akan banyak tidak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, maka engkau tak akan tahan dalam menunaikan kewajiban.”
Wahai anakku! Sesungguhnya Allah menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara.
*Pertama, Allah menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh karena itu, janganlah engkau memandang ringan sesuatu perbuatan taat, karena barangkali di dalamnya terdapat ridha Allah.
*Kedua, Allah menyembunyikan murka-Nya dalam sesuatu maksiat. Oleh itu, janganlah engkau memandang ringan sesuatu maksiat, karena barangkali di dalamnya terdapat murka Allah.
*Ketiga, Allah menyembunyikan wali-wali-Nya di dalam makhluk-Nya. Oleh itu, jangan sekali-kali engkau menghina (memandang rendah) seseorang, karena mungkin dia adalah wali Allah.”
Banyak cerita dan puisi yang didedikasikan untuknya.
Al-Qurazi berkata:
Duhai (engkau) yang membagi (baqir) ilmu pengetahuan (dan membuatnya tersedia) bagi orang-orang yang memerlukan dan tempat orang-orang mencari penyelesaian yang terbaik.
Malik bin Ayan al-Juhi berkata tentangnya Ketika orang-orang mencari ilmu Qur’an, kaum Quraisy bersandar kepadanya. Jika seseorang hanya dapat bertanya dimanakah putra dari putrinya Rasulullah  S.A.W, sedangkan engkau memperoleh ribuan cabang (ilmu pengetahuan) darinya. Engkau seperti bintang yang menyinari musafir pada kegelapan, engkau bagaikan gunung yang mewarisi luasnya ilmu pengetahuan.
Imam Muhammad Al-Baqir wafat di kota Madinah 7 Zulhijjah pada tahun 117 H (dalam riwayat lain 114 H atau 118 H) setelah memimpin jabatan ke imamahan selama 19 tahun dan disemayamkan di pekuburan Baqi’, tepatnya di qubah Al-Abbas disamping ayahnya, lokasi yang banyak di makamkan disana para Ahlul bait, Syuhadaa’ dan para Sahabat. Beliau berwasiat untuk dikafani dengan qamisnya yang biasa dipakainya shalat. Beliau meninggalkan 8 orang anak (dalam riwayat lain 7 anak), yaitu Ja’far Shodiq, Abdullah, Ibrahim, Ubaidillah, Reza, Ali, Zainab dan Ummu Kultsum (Ummu Salamah). Putra beliau yang bernama Ja’far dan Abdullah dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq. Dunia sangat beruntung sekali lewat adanya Imam Al-Baqir ini, karena beliau adalah seorang pendidik untuk banyak dari ‘ulama Islam seta pelestari sunnah sunnah Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Sangat disayangkan banyak yang belum tahu tentang beliau yang sangat dihormati dan dalam jasa jasanya yang sangat banyak bagi kemajuan ilmu Islam khususnya. Muhammad bin Mahmud bin Khafindis menulis dalam RAUZATUS-SAFAA bahwa: Lidah dan pena tidak akan dapat menggambarkan manfa’at (jasa jasa nya) dan pri kehidupan Imam muhammad Al-Baqir . Semoga Allah senantiasa melimpahkan Jutaa’an Shalawat dan Salaam kepada Rasuulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam beserta keturunan keturunan nya.. Aaamiin..
ROBBI FANFA’NAA BI BARKATIHIM  WAHDINAL HUSNAA BIHURMATIHIM
WA AMITNAA FII THORIIQOTIHIM WA MU’AAFATIN MINAL FITANI
Syai’un lillaahi walahumul faatihah…
_________________________________
Diambil dari beberapa sumber :
- Syarhul ‘Ainiyah, Nadzam Sayyidinaa Al-habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy
- As-Sawaa’iq Al-Muhriqoo, Sayyidinaa Syeikh Ibnu Hajar Al Makki Al Haitami
- Siraah An-Nu’mani
- Kasyful mahjub
- As-Syifaa’
- AL-Khishal
__________________
Wallôhu A’lam