Wahai putraku, hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya adalah kunci setiap keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, maka engkau akan banyak tidak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, maka engkau tak akan tahan dalam menunaikan kewajiban.” ( al Imam Muhammad al Baqir)
subakir
Minggu, 22 Desember 2013
Sabtu, 21 Desember 2013
Kenali Ulama-Ulama Ahlussunnah Waljamaah
Atas Dari kiri:
Habib Umar Al-Hafiz (Yaman),
Syeikh Afeefuddin Al-Jilani (Iraq),
Syeikh Hamzah Yusuf (Amerika Syarikat),
Syeikh Muhammad Nuruddin Al-Banjari Al-Makki (Indonesia),
Syeikh Muhammad Fuad Ibn Kamaludin Al-Maliki (Malaysia),
Habib Hassan Al-Attas (Singapura),
Habib Ali Zainal Abidin Ibn Abdul Rahman Al-Jufri (Yaman),
Syeikh Sayyid Ahmad Ibn Muhammad Ibn Alawi Al-Maliki (Mekah).
Bawah Dari Kiri:
Prof Al-Muhaddis As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani( Mekah )
Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Ibn Ibrahim Al-Kattani (Mesir)
Al-Arif Billah Syeikh Dr. Yusof Ibn Mahyuddin Al-Bakhor (Lubnan)
Al-Allamah Syeikh Prof. Dr. Abdul Razak Al-Sa'adiy (Iraq)
Syeikh Ali Jumaah (Mesir)
Al-Muhaddis Syeikh Dr. Mahmud Said Ibn Muhammad Mamduh (Mesir)
Sultan Al-Ulama' Al-Habib Salim Ibn Abdullah Ibn Umar As-Syatiri (Yaman)
Al-Arif Billah Al-Habib Abdul Qadir Ibn Ahmad As-Seggaf (Yaman)
Prof Al-Muhaddis As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani( Mekah )
Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Ibn Ibrahim Al-Kattani (Mesir)
Al-Arif Billah Syeikh Dr. Yusof Ibn Mahyuddin Al-Bakhor (Lubnan)
Al-Allamah Syeikh Prof. Dr. Abdul Razak Al-Sa'adiy (Iraq)
Syeikh Ali Jumaah (Mesir)
Al-Muhaddis Syeikh Dr. Mahmud Said Ibn Muhammad Mamduh (Mesir)
Sultan Al-Ulama' Al-Habib Salim Ibn Abdullah Ibn Umar As-Syatiri (Yaman)
Al-Arif Billah Al-Habib Abdul Qadir Ibn Ahmad As-Seggaf (Yaman)
IBU karya D. ZAWAWI IMRON
Ibu
D. Zawawi Imron
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daun pun gugur bersama reranting
hanya mata air air matamu, ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
D. Zawawi Imron
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daun pun gugur bersama reranting
hanya mata air air matamu, ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
KALAU AKU IKUT UJIAN LALU DITANYA TENTANG PAHLAWAN
NAMAMU IBU, YANG KAN KU SEBUT PALING DAHULU
LANTARAN AKU TAHU
ENGKAU IBU DAN AKU ANAKMU
(Batang-Batang - Madura)
(Batang-Batang - Madura)
KUMPULAN RINGKASAN CERAMAH AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA
Bertasbih Bersama Alam
Allah Swt menciptakan alam semesta, menciptakan bumi dengan keaneka
ragaman hayati. Allah Swt menciptakan bukit dan gunung, menciptakan
pepohonan yang mempunyai jenis yang bermacam-macam; berkulit halus,
kasar, berduri, berwarna-warni dengan segala bentuk dan rasa
buah-buahannya. Satu sama lain mempunyai perbedaan, ada yang serupa tapi
tak sama; manis, pahit, asam, ketir, dan lainnya. Bumi dihiasi pula
dengan aliran-aliran sungai besar dan sungai yang kecil memancang,
berupa-rupa kelokan, panjang dan luasnya, airnyapun mempunyai banyak
kandungannya. Gunung-gunung tegak-tegap memancang, ada yang aktif berapi
ada yang tidak.
Laut
terhampar diatas bumi adakalanya tinggi lautnya disuatu daerah lebih
tinggi dari daratan seperti yang terjadi di beberapa daerah. Walaupun
sama asinnya jelas berbeda, penghuni lautan dan daratan juga beraneka
ragam. Semua itu bukan sebatas hiasan pemandangan alam, tetapi juga
untuk direnungkan dan di pikirkan. Karena ilmu Allah yang diberikan pada
makhluknya berbeda-beda dan memiliki keutamaan yang berbeda pula.
Pertanyaannya sejauhmana kita bisa menggapai ilmu yang ada pada setiap
yang diciptakan oleh Allah. Kita hanya mampu berucap Subhanallah.
Apalagi kita mau melihat lebih jauh aau mengerti lebih jauh apa yang
ada dalam perut bumi. Secara kasat mata kita tidak bisa melihatnya
dimana didalamnya (peut bumi) terdapat palung-palung, gunung-gunung
kecil didalamnya tedapat kantong-kantong gas, minyak dan kekayaan alam
lainnya. Dengan ilmullah (ilmu Allah yang diberikan pada manusia) serta
mendapat kemampuan yang dengannya kita dapat menguak apa yang ada dalam
perut bumi, bahkan bisa kita ambil seperti minyak, biji besi, tembaga,
kuningan, emas, perak dan bau-batu berharga.
Dan bagaimana peranan gunung berapi yang bersumberkan dari sekian
kilometer yang menghubungkan daratan dengan lautan. Dan mampu menyedot
air laut melalui lapisan-lapisan bumi yang sangat rapi yang dikelola
oleh gunung berapi tersebut memproduksi air tawar, belerang, kandungan
besi adapula yang memproduksi lumpur yang cukup mempunyai kandungan
garam seperti di Purwodadi. Tak salah ini menjadi nilai tambah bagi
pendapatan penduduk sekitar.
Sekali lagi saya ucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah).
Akan tetapi kita mengerti dan meyakini selain Yang Maha dalam
segalasifatNya dan tiada sekutu BagiNya, selain Dia adalah makhluk,
tempatnya segala kekurangan. Sadar atau tidak.
Kita
semua (yang bernyawa ataupun tidak) berikhtiar untuk mengurangi segala
kekurangan, pohon-pohon dengan akarnya berusaha untuk menghidupi dirinya
begitu pula makhluk lainnya selain ppepohonan. Dan banyak sekali
diantara satu sama lain yang terkait dalam menjalani kehidupan. Ketika
kita kepanasan ingin mencari penyejuk –semisal ketika kita ditengah
pesawahan- mencari peneduh seperti pohon yang rindag serta lebat daunnya
serta dahannya, banyak rantingnya dan rindang daunnya.
Dengan
langkah kaki kita, kita mau tidak mau dengan suka rela datang ke pohon
tersebut. Demikian pula pohon yang kita teduhi tersebut ingin berteduh
(perlindungan) pada manusia; ingin diramut, dipelihara dan disirami air.
Namun apabila bumi ini menjadi pereka diantara satu sama yang lain.
Umpamanya manusia, pohon atau makhluk hidup lainnya memerlukan menu yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan asupan giji.
Kita
jarang atau bahkan tidak menyadari keadaan saling membutuhkan itu, dari
sebab kesalahan itu akan menambah kerapuhan bumi. Dan membuka pori-pori
daya serap yang lebih tertutup sehingga filter yang ada dalam tubuh
bumi tiada mampu mengantisipasi.
Maka efeknya adalah tumbuhan atau ekosistem yang ada diatasnya akan
mengalami kerusakan, tak ubahnya bilamana lapisan ozon telah rusak maka
kebocoran ozon itu akan menyebabkan tumbuhan akan menimbulkan panas yang
tidak normal. Dari akibat itu daya tarik matahari yang meningkat
terhadap air lau bisa lebih tinggi disamping akan semakin cepat
mencairnya gunung-gunung es di kutub.
Maka untuk mengantsipasi sepaya daya serap bumi terhadap air laut perlu
dijaga kebersihan panai-pantai. Kebersihan pantai dari sampah-sampah
akan membantu pertumbuhan butir-butir bumi serta akan menyebabkan bumi
semakin sehat.
Begitupula
curah hujan lebih dari hitungan masa kemarau atau musim hujan. Dengan
menjaga bumi dari segala kotoran atau limbah, akan sangat membantu,
pohon-pohonan dan mentralisir daya serap daun-daunan dari pengaruh
ultraviolet. Maka termasuk ikhtiar secara batiniyyah adalah dengan
mengembangkan dzikir dan tasbih dengan cara penghijaun atau reboisasi
bumi. Karena setiap tumbuhan khususnya dedaunan membaca tasbih kepada
Allah. Tasbihnya tersebut menjadi sebab turunnya rahmat dari Allah
kepada lingkungannya dimana pohon atau tumbuhan itu berada.
Dari itu yang bertasbih bukan saja pohon-pohonan, batu kerikil, pasir, semua bertasbih kepada Allah Swt.
Saya mengambil satu hadis riwayat Ibnu Abbas yang disepakati kesahihannya. Redaksi hadisnya demikian:
أنه مر بقبرين يعذبان فقال : إنهما
ليعذبان وما يعذبان في كبير أما أحدهما فكان لا يستتر من البول وأما الآخر
فكان يمشي بالنميمة ثم أخذ جريدة رطبة فشقها نصفين ثم غرز في كل قبر واحدة
فقالوا : يا رسول الله لم صنعت هذا ؟ فقال : لعله يخفف عنهما ما لم ييبسا .
متفق عليه رواه البخاري ومسلم وغيرهما
ketika
baginda Nabi Muhammad Saw melewati pekuburan Nabi mendengar dua
penghuni kubur sedang menangis, lalu Rasulullah menebas pelapah kurma,
pelapah itu kemudian ditancapkanoleh Rasulullah Saw diatas pusara kedua
kubur tersebut. Kemudian yang menangis didalam kubur tersebut diam.
Bertanya sahabat; ‘apakah maksudnya pelapah kurma ditancapkan dipusara
tersebut. Rasulullah menjawab; ‘selagi pelapah kurma iu belum kering,
pelapah it uterus membaca tasbih kepada Allah. Dari sebab tasbihnya,
Allah Taala menurunkan rahmat’.
Maka dari sebab tasbihnya pelapah dan dedaunan yang ada pada pelapah
tersebut orang yang didalam kubur telah mendapat rahmatnya Allah Taala,
tiada musibah yang paling besar untuk setiap manusia, sebelum dipadang
makhsar selain adzab kubur.
Dari sebab daun tersebut bisa meringankan siksa kubur, ini yang membuat saya takjub, subhanallah!
Kita kembali kepada diri kita kalau mau bertafakur; seandainya
penghijauan dari mulai tepian pantai dan mau mengerti apa yang senarnya
ada pada pohon-pohonan tersebut insya Allah kita akan dijauhkan dari
segala cobaan, terutama diakhirat nanti. Tapi tidak bisa dielakan dan
dipungkiri ladang untuk akhirat nanti adalah didunia ini. Ternyata yang
memerlukan kebersihan batin, bukan manusia saja, akan tetapi termasuk
juga bumi, dan ekosistem diatasnya. (18/01) [Tsi]
Mengenal Sifat Para Kekasih Allah
Wali adalah hamba-hamba yang dicintai oleh Allah Swt. Mereka diangkat
menjadi wali bukan karena ibadah mereka ditujukan untuk itu, akan tetapi
karena ketaatan dan keiklasannya dalam beribadah. Mereka melakukan
ibadah semata-mata karena kesadaran sebagai hamba Allah. Maka mereka
mengerti maqomat ubudiyah, dan mengerti ilmu ke-Tuhanan.
Dengan
semakin meningkatnya mereka mengenal Allah maka mereka semakin sadar
akan kehambaan mereka. Mereka adalah teladan bagi kita semuanya.
Sifat-sifat mereka disebutkan oleh Allah dalam Al Quran (Yunus: 62-63):
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“Ketahuilah sesungguhnya
wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula
mereka bersedih hati, iaitu orang-orang yang beriman dan mereka
senantiasa bertaqwa”
Ketahuilah bahwa Aulia (para Wali Allah), tidak punya rasa takut kecuali
terhadap Allah ta'alaa, karena tidak sekedar kadar keimanannya, dan
tidak pula setengah-setengah keimanan dan keyakinannya kepada Allah dan
Rasul-Nya. Tadhoru-nya, ibadahnya, syukurnya, roja’nya itulah yang
menjadikan mereka sempurna dalam kehambaannya. Yang kedua mereka tidak
mempunyai rasa takut selain pada Allah Swt, karena mereka itu adalah
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ , orang-orang yang beriman.
Tidak sedikitpun mengambil atsar (merasa ada yang bisa member efek
psoitif danalam mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan) dari
sesuatu selain Allah. Beliau-beliau bisa membedakan mana dorongan
nafsunya, mana dorongan imannya. Beliau-beliau tidak tertipu dengan
nafsunya sendiri, apalagi oleh Syaithan,
Beliau-beliau sangat menjauhi kesyirikan, syirik kecilpun sangat
mereka hindari. Misalkan disuatu subuh turun hujan, adzan berkumandang
hingga sholat tidak ada yang keluar untuk berjamaah. Setelah selesai
sholat dia ngomong; ‘subuh-subuh di undang sholat sama Allah malah pada
tidur’. Tanpa dia sadari dia sudah terperosok pada syirik kecil, bangga
dengan amalnya dan mengecilkan yang lain. Padahal yang lain ada yang
bekerja hingga larut malam, ada yang sakit, berat untuk bangun subuh
awal.
Demikian pula ketika
kita datang kesuatu daerah untuk ceramah, tuan rumah mengatakan kalau di
daerah itu masih banyak orang yang meminum minuman keras. Pada waktu
naik ke panggung dia ngomong; ‘ masa disini masih banyak orang minum..’
dengan nada marah. Dia naik ke podium dengan amarah bukan dengan kasih
sayang untuk menyadarkan orang lain. Tanpa sadar dia telah mendahulukan
amarahnya. Ibarat seorang tuan rumah yang menyuruh atau mempersilahkan
minum kopi yang dihidangkan padahal kopinya sangat panas. Tapi jika
mubaligh itu bisa memahami dan menguasai nafsunya maka akan menyampaikan
dengan lemah lembut. Ibarat menyuruh minum kopi itu, menunggu setelah
dingin dahulu. Karena dalam al Quran sendiri pelarangan dan penyadaran
minum khomer itu secara bertahap. Tapi jika panas (mubaligh) dan panas
(pendengar; karena tersinggung) apa jadinya dakwah itu.
Nah para wali-wali Allah Swt tidak mungkin seperti itu. Para beliau
paham mana dorongan nafsu dan mana dorongan kasih sayang atau niatan
taat kepada Allah. Nafsu itu menurut imam Qusyairi ibara anak kecil,
waktu masih kecil kencing sembarangan tetap lucu dan menggemaskan,
membuat kita tertawa tetapi ketika makin tumbuh besar usia 6 tahun
kencing sembarangan kan membuat ibunya marah.
Selanjutnya
yang membuat mereka diangkat oleh Allah menjadi wali karena mereka
selalu ingat pada Allah Swt. Nafsu itu jika dituruti akan terus meminta
lebih. Jadi para wali-wali Allah sangat menjauhi ajakan nafsu itu.
Nah para wali Allah itu sendalnya saja tidak pernah maksiat apalagi
kakinya, kalau kita kaki kita terperosok kejurang maksiat apalagi
sendalnya. Itu pengandaian saja bagaimana beliau-beliau bisa menahan
diri dari menuruti nafsu.
Para aulia menjaga matanya karena merasa disaksikan terus oleh Allah
Swt, hatinya tidak pernah suudzon. Para wali-wali Allah lalai lupa sama
Allah sekejap saja belia-beliau wajib taubat. Mata dan mulut itu yang
pertam kali busuk saat orang meninggal dunia.
Kunci berikutnya adalah taat kepada orang tuanya, sekalipun orang tua
kita bodoh, beda agama sekalipun selama memberitahukan yang baik, ya
ikuti. Jangan mentang-mentang beda agama kita bertindak sembarangan.
Walaupun beda agama orang tua yang melahirkan kita tetap harus kita
hormati. Lebih-lebih seagama. Termasuk mertua sekalipun.
Lihat seperti kisah Uwaisy Al Qarny, kenapa beliau di angkat menjadi
wali. Karena taatnya beliau pada orang tua samapai beliau itu hidup pada
jaman Nabi tapi beliau tidak pernah bertemu dengan Nabi Saw, karena
kesibukannya mengurus ibunya yang sakit, dan siangnya beliau menggembala
kambing. Bahkan beliau pernah menggendong ibunya dari Yaman sampai
baitillah Al Haram untuk melakukan ibadah haji. Ditempat yang lain
Rasulullah Saw, mewasiatkan kepada Sahabat Abu Bakar untuk menyampaikan
salam dan memberikan gamis dan mengamanatkan Sahabat Abu Bakar untuk
memintakan doa dari Uwais. Bayangkan Rasulullah Saw sangat tawadhu’nya
meminta doa dari Uwais, seoang makhluk paling utama, dan para penghulu
dari para Nabi. Meminta doa yang hakikatnya untuk umat, karena beliau
sendiri sudah lebih-lebih. Ini pelajaran untuk kita agar rendah hati.
Pada masa Sahabat Abu Bakar belum bisa ditemukan, dan amanat Rasulullah
Saw itu baru bisa disampaikan pada masa Sahabat Umar menjadi Khalifah,
beliau sendiri dan Sayidina Ali yang menyampaikan salam dan titipan
Rasulullah Saw itu. Karena dalamnya ma’rifatnya Uwais Al Qarni beliau
mengenal siapa saja yang datang menghapirinya; katanya: Asalam Alaik
Umar bin Khatab amirul mukminin, asalam alaika Amirul Mukminin Arabi’
Ali bin Abi Thalib. Itu Karena dalamnya ma’rifatnya beliau padahal belum
pernah saling bertemu. Karena taatnya pada orang tua Uwais kenal dengan
Allah. Karena taatnya pada orang tua Uwais diangkat menjadi wali,
bahkan sayid at tabiin. Karena taat dan hormatnya Uwais sampai
mendapatkan gamisnya (pakaian) dari Rasulullah Saw Padahal tidak pernah
bertemu Beliau SAW
Yang
kedua adalah taat Uwais kepada gurunya yang mengenalkan dirinya kepada
Allah Ta'alaa. Guru yang menuntuk menjauhkan dari kesyirikan. Mana
yang menjadi sifat Allah dan mana yang bukan, dan guru yang mengenalkan
pada mana yang halal dan mana yang haram. Dan beliau khidmah pada
gurunya sehingga menjadi wali. Kita membaca dan mengaji tentang wali
dalam kitab ini bukan untuk menjadi wali tapi untuk meniru mereka,
dalam tingkah laku. Mudah-mudahan kita mendapatkan keberkahan doa
belia-beliau, dan juga keturunan-keturunan kita semua. Inysa Allah doa
yang kita mohonkan pada Allah pada akhir majlis akan di Ijabah oleh Alla
Swt. Wallah A’lam. (Fdi/Tsi)
Peran Thoriqoh Dalam Membersihkan Hati
Bila kita mau melihat lebih jauh tentang filosofis atau makna‘ Al
Mudghoh’ yang di sebutkan pada bahasan sebelumnya ((ألا إن في الجسد مضغة
إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب) [البخاري
ومسلم]). Hati sering digunakan dengan maksud makna jiwa, dan hati yang
bermakna liver. Untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga hati yang
bermakna jiwa manusia saya akan menguraikan mudhgoh atau hati dalam
hadis tersebut dengan makna liver. Ini analog saja untuk memudahkan
pemahaman pada tujuan dari pembahasan kita ini.
Mudghoh atau hati letaknya di dalam tubuh manusia. Tubuh manusia
membutuhkan perhatian yang serius. Perlu kita ketahui bahwa
penyakit-penyakit manusia bersumberkan dari hati . baik dan tidaknya
metabolism tubuh seseorang tergantung pada baik dan tidaknya darah darah
orang tersebut. Dan darah itu akan menjadi baik dan tidak tergantung
dua hal:
Pertama; apa yang
dimakan dan yang dan bagaimana cara memperoleh makanan itu. Apa yang
dimakan adalah harus sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran,
daging-dagingan yang memperkuat stamina. Kemudian darimana yang kita
makan atau bagaimana cara mendapatkan makanan itu. Yang jelas makanannya
harus halal, halal disini sudak mencakup pengertian makanan itu
diperoleh dengan cara yang benar.
Kedua; darah itu baik dan tidaknya adalah bersumber dari pencernaan.
Pencernaan yang berfungsi dengan baik akan membuat darah baik dan begitu
juga sebaliknya; jika pencernaannya tidak berfungsi dengan baik maka
darah yang dihasilkannya juga tidak baik.
Upaya untuk membantu memperbaiki pencernaan biasa kita lakukan paling
tidak satu tahun sekali; yaitu puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan diantara
manfaatnya adalah membersihkan semua organ-organ manusia. Panasnya
pencernaan orang-orang yang berpuasa akan membakar hal-hal yang
negative dalam pencernaan seperti bachsil dan bakteri. Dan lain
sebagainya. Dengan demikian pencernaan dapat kita analogikan seperti
bejana yang kita gunakan untuk memasakn segala sesuatu.
Kita bayangkan seandainya bejana itu tidak pernah dicuci. Setalah kita
gunakan untuk memasak ikan laut, kita gunakan untuk memasak telur, terus
demikian silih beganti sehingga menimbulkan kerak pada bejana itu.
Demikian pula pencernaan, kerak-kerak, imbas daripada yang kita makan
lambat atau cepat mempengaruhi proses kerja perncernaan atas makanan
yang kita konsumsi.
Sangat
jelas sekali bahwa pencernaan tidak bisa bekerja sendiri. Hasil proses
pencernaan dilimpahkan ke ginjal, pancreas sampai pada liver. Dari kerja
sama yang kompak menghasilkan beberapa hal, diantaranya darah putih,
darah merah, sperma, keringat, air kencing dan kotoran.
Dari hasil kerja sama yang baik antara organ tubuh manusia tersebut
akan menghasilkan lima hal di atas yang baik pula. Bila akibat proses
kerja pencernaan yang kurang baik sehingga terjadi darah kotor dalam
tubuh manusia, maka sangat diperlukan sekali pembersih. Yang pertama
untuk membersihkan pencernaan yang menjadi sumber pengelola makanan
dalam tubuh. Kedua membersihkan apa yang telah di olah.
Tugas
liver adalah menjatah atau menyalurkan darah ke jantung, ke otak kecil.
Apakah tidak mungkin apabila darah atau kotoran akan mempengaruhi fisik
otak manusia serta sarafnya. Sehingga kurang mampu untuk berfikir baik,
membuka wawasan, dan pandangan yang jauh. Apalagi jelas kita tidak
menginginkan pola fikir-pola fikir yang kurang baik. Yang tidak
menguntungkan bagi pribadi kita, baik dalam urusan dunia dan maupun
akhirat kita.
Dengan hasil
darah yang baik, sehat, akan sangat membantu dalam kecerdasan; dari
kecerdasan hati sampai kecrdasan akal. Sehingga menumbuhkan pola fikir
dan wawasan serta pandangan yan jernih. Bisa memilah mana yang
menguntungkan dalam dunia dan akhiratnya. Dan mana yang merugikan dalam
kedua hal tersebut.
Secara
fisik saja sangat memerlukan kesehatan dan kebersihan. Hati adalah
bagian tubuh manusia yang sangat berperan dalam memberikan atau dalam
mensuport pola fikir, wawasan dan pandangan manusia, karena hati adalah
tempatnya iman dan tempatnya nafsu. Lalu apa yang terjadi jika kita
tidak mempunyai alat untuk membersihkannya.
Kita harus memberikan makanan hati serta pembersihnya seperti ilmu
ma’rifat dan lain sebagainya, yang terkait dengan keimanan serta
pertumbuhannya. Paling tidak kita bisa memilih mana yang di dorong oleh
imannya dan mana yang didorong oleh nafsunya.
Seperti masalah pencernaah diatas bukan sesuatu hal yang mustahil
bilamana kita mendiamkan kotoran-kotoran hati maka akan mempengaruhi
pola fikir yang pada dasarnya akan merugikan diri sendiri. (tobe continu
[Tsi])
Keteladanan Dalam Totalitas Sahabat Abu Bakar
Sebelumnya sudah di jelaskan bahwa anatara satu sahabat dan sahabat
yang lainnya memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Tapi pasti
masing-masing sahabat mempunyai sirrul A’dzom, keutamaan yang luar
biasa. Keutamaan sahabat Abu Bakar, Sahabat Umar, Sahaba Utsman, Sahabat
Ali semuanya hakikatnya adalah untuk umat. Bahkan kelemahan mereka
adalah untuk umat. Mohon sampai sini tidak disalah pahami.
Pada uraian sebelumnya saya membahas tentang sahabat Abu Bakar. Sahabat
Abu Bakar ini adalah sosok yang pengabdiannya pada agama dan pada Nabi
Saw sangat total. Sebagai ilustrasi kita merujuk pada peristiwa Hijrah
Nabi Saw. Bermula ketika di Gua Tsur Sayidina Abu Bakar Sidiq menutup
lubang-lubang yang ada di gua itu dengan pakaian beliau, ketika masih
ada lubang yang tersisa, terpaksa lubang tersebut beliau tutup dengan
jempol kaki beliau.
Sebab
biasanya lubang-lubang di Gua di huni oleh hewan-hewan berbisa, seperti
ular, kala jengking dan binatang lainnya. Kehawatiran Sayidina Abu Bakar
terjadi, jempol beliau dipatuk ular (menurut pendapat lain oleh kala
jengking). Beliau menahan sakit yang luar biasa itu sampai tubuhnya
gemetar, keringat bercucuran. Beliau tahan agar tidak mengganggu Nabi
Saw yang sedang tidur, sedang isirahat.
Demikian akhlak, pengorbanan Sayidina Abu Bakar Sidiq terhadap Nabi
Saw, sampai seperti itu. Kalau kita ke kiai kita sendiri ketika kiai
kedatanga tamu, padahal kiai sedang tidur, kita berani menetuk pintu
kamarnya. Anak terhadap orang tuanya juga demikian. Adab atau tatakrama
Sahabat Abu Bakar pada Rasulullah Saw seperti itu. Teladan Sahabat Abu
Bakar itu sangat luar biasa, teladan pengabdian umat pada Nabinya.
Ini sebenarnya teladan bagi kita semua untuk mengabdi pada guru, sesuai
kemampuan kita. Pengabdian pada guru bisa mengantarkan pada futuh
(dibuka pemahaman terhadap ilmu dan diberikan taufiq untuk
mengamalkannya), sebab manfaatnya ilmu tidak terkait dengan kepintaran
pelajar sendiri. Umpanya kalau di pesantren tidak sedikit santri yang
hafal kitab Ibnu Aqil, Amrithi nya luar biasa, penguasaan ilmu alatnya
tidak diraukan, tapi ilmunya tidak manfaat.
Keistimewaannya Sahabat adalah mereka memiliki Akbarul Mafatih, sahabat
mempunyai kunci futuh yang sangat sangat isimewa, sangat luar biasa.
Sebab itu alimnya tidak seberapa tapi manfaatnya luar biasa. Kita
sekarang mempunyai kitab menumpuk, tafsir Al Quran ada ribuan jilid
dengan judul dan pembahasan yang beraneka ragam, adapaun sahabat
pengetahuan agamanya hanya menunggu dari apa yang disampaikan Nabi Saw,
menunggu wahyu turun. Ilmunya pasa-pasan.
Tapi maqomah (kedudukan) ilmu yang sedikit itu bisa menjadi luas luar
biasa. Seperti garam yang menyebar dan menyatu di lautan luas.
Makanya sebodoh-bodoh-nya Sahabat tetep alim, sebodoh-bodohnya sahabat
adalah seorang ‘Arif. Se-agung dan setinggi-tinggi-nya pangkat wali pada
umat ini tidak dapat mengalahkan keutamaan sahabat yang sangat bodoh.
Sahabat itu demikian adanya dan diberi futuh yang sangat besar oleh
Allah Swt.
Kembali ke kisah
tadi di atas. Setelah Nabi terjaga dan tahu apa yang terjadi pada
Sayidina Abu Bakar, Nabi Saw mendoakan Sayidina Abu Bakar. Nabi Saw
membacakan fatihah, setelah di bacakan fatihah jempolnya Sayidina Abu
Bakar yang membengkak pulih seperti semula. “Abu Bakar Sidiq, kamu akan
mati syahid sebab kejadian ini, dan keturunanmu akan menjadi para
syuhada...”. Doa Nabi ini terbukti. Saya kasih contoh dua saja. Pertama
Sayidi Syaikh Muhyidin Ibnu ‘Arobi, beliau ini keturunannya Sayidina Abu
Bakar, yang kedua Sayid Bakri yang mempunyai Sholawat Fatih; Allahumma
Sholi ‘Ala Sayidina Muhammad Al Fatiihi lima ugliq, wal Khotimi lima
sabaq, nashiril Haq bil Haq walhadi ila Sirotil Mustaqim Sholollahu
alaihi wa ala alihi wa ashabibi haqqo qodrihi wamiqdarihil al Adzim.
Di Mesir, Yaman dan dibelahan bumi manapun siapa yang tidak kenal
kebesaran Sayid Bakri siapa. Wali Agung, Mursyid Thoriqoh Kholwatiyyah.
Dan siapa yang tidak tahu akan kehebatan Syaikh Muhyidin Ibnu ‘Arobi.
Kitab-kitabnya sangat banyak, seperti Futuhat Al Makiyyah yang
berjilid-jilid, al Washoya dan lain-lain. Selain banyak, karang beliau
terkenal sulit, seperti Futuhat Al Makiyyah. Karena itu tidak sedikit
para ulama demi kehati-hatian melarang orang yang belum mumpuni ilmunya
membaca kitab itu. Karena untuk memhami kitab itu perlu menguasai
perangkat ilmu-ilmu alat dan syari’at yang cukup.
Sayidina Umar juga demikian, wafatnya dibunuh, seperti sebab wafatnya
Sayidina Abu Bakar adalah terkena racun waktu di gua Hiro itu. Kenapa
ulama, aulia yang pangkatnya sedemikian besar seperti beliau wafatnya
mengenaskan seperti itu. Itu bukti pengabdian beliau-beliau untuk umat
ini, untuk Rasulullah Saw. demikian juga dengan wafatnya Sayidina
Utsman, Sayidina Ali, Sayidina Hasan, dan Sayidina Husain serta
ulama-ulama lainnya.
Oleh
sebab itu kita jangan sekali-kali membenci salah satu dari para Sahabat.
Banyak yang wajahnya bercahaya kemudian wajahnya menjadi butek, karena
berkomentar tentang kejadian yang terjadi diantara para sahabat Nabi,
yang kita sama sekali tidak tahu kejadian sebenarnya bagaimana. Wallah
‘A’lam. [Tsi]
KATA-KATA BIJAK SANG SUFI, AL–‘ARIF BILLAH MAULANA AL-HABIB LUTFI BIN YAHYA PEKALONGAN
“Perselisihan
para ulama fiqih ibarat biji mangga, tumbuh bercabang kemudian menumbuhkan
ranting, dari ranting kemudian muncul dedaunan dan buah-buahan yang memiliki
bentuk dan ukuran yang berbeda.”
“Rahasia Allah
terletak pada makhlukNya.”
“Sesama wali
quthub meski memiliki pangkat kewalian yang sama tetapi memiliki sirr atau
rahasia yang berbeda. Salah satu hikmahnya adalah agar tidak ada kecemburuan di
antara makhluk Allah.”
“Jangan
sekali-kali melupakan guru yang telah mengenalkanmu dzahir-dzahir syariat,
terlebih guru mursyidmu yang telah membimbingmu menuju Allah. Salah satu sebab
kenapa aku memperoleh derajat terhormat saat ini adalah karena aku sangat
menghormati guru-guruku.”
“Rizki itu
ada dua, Tajrid dan Kasbi. Rizki Tajrid diperoleh
tanpa melalui ikhtiar, inilah karunia yang Allah berikan kepada para auliya' (kekasih
Allah). Sedang rizki Kasbi didapat melalui proses ikhtiar.”
“Rizki itu
ibarat tangki mobil, sudah ada takarannya gak bisa dilebihkan atau dikurangi. Kalau
dilebihkan bisa-bisa luber dan kalau dikurangi bisa-bisa pengemudi tidak sampai
ke tujuan.”
“Jangan
kau akui keilmuan seorang alim yang suka mencerca para auliya’ dan ulama.”
“Qana’ah
dan zuhud adalah pakaian tani yang kita gunakan untuk menggarap lahan di sawah,
pelindung dari kotoran-kotoran dan lumpur yang bisa menodai tubuh kita dikala
menggarap lahan. Begitulah kaum sufi memandang dunia, mereka tetap bekerja,
ikhtiar mencari rizki dengan bersikap qana’ah dan zuhud agar kotoran dunia
tidak mengotori hati mereka yang bersih.”
“Anda
keliru jika menyangka para ulama sufi tidak kaya. Al-Imam Abul Hasan asy-Syadzili
memiliki empat ekor kuda paling mahal di masanya, kereta kudanya memiliki dua
roda yang dihiasi mutiara dan batu mulia, tapi tidak sedikitpun kemegahan
kereta kuda itu mengisi relung hatinya. Bahkan ketika ada orang yang takjub
akan kemegahan kereta kudanya dan sangat menginginkan apa yang dimiliki sang sufi,
asy-Syadzili lantas memberikan kereta kudanya untuk orang tersebut.”
“Tidak
usah memikirkan kekeramatan, yang penting kalian mendalami sekaligus mengamali
secara benar dzahir-dzahir syariat.”
“Aku tidak
pernah belajar komunikasi dengan arwah di alam barzakh. Aku bisa karena
memiliki mahabbah (kecintaan) kepada
meraka. Ilmu seperti itu tidak usah dipelajari, berbahaya, karena kalian belum
bisa membedakan mana arwah para wali dan mana arwah yang merupakan jelmaan
iblis.”
“Hikmah di
balik tanaman yang diletakkan di atas kuburan adalah untuk meringankan adzab si
ahli kubur. Karena selama tanaman itu masih hijau, dia (tanaman) bertasbih
memujiNya. Hal inilah yang menjadi sebab turunnya rahmat diringankan siksaan si
ahli kubur.”
“Kasih
sayang seorang wali itu sama seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya,
bahkan mereka rela menanggung adzab yang turun di umat mereka. Begitulah sifat
para auliya’.”
“Rahmat
turun karena sebab ikhtiar. Contoh: sakinah,
mawaddah dan rahmah akan muncul jika seseorang sudah ikhtiar untuk menikah.”
“Qudrat
dan iradat Allah Swt. ditunjukan pada tiap makhluk yang telah Dia ciptakan.”
“Make
up orang mukmin ialah bekas sujud yang memancar dari wajahnya.”
“Maksiatnya
Nabi Adam As. merupakan tarbiyah Allah Swt. kepada Nabi Adam As. agar kelak
jangan mengulangi perbuatan tersebut.”
“Hikmah
diperoleh setelah penalaran yang mendalam. Hikmah juga mengajarkan seseorang
untuk bersikap sabar.”
“Demi
menghormati Abdullah bin Umi Maktum, Rasulullah Saw. selalu berdiri tiap kali
ada orang buta yang lewat di hadapan beliau.”
“Berpalingnya
Rasulullah Saw. dari Abdullah bin Umi Maktum membuat beliau ditegur oleh Allah Swt.
dengan cara yang halus yaitu dengan dhamir ghaib: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling”,
bukan dengan dhamir mukhathab: “Kamu
(Muhammad) bermuka masam dan berpaling”, (QS. ‘Abasa ayat 1). Hal ini
adalah bentuk pendidikan sekaligus perintah Allah kepada Rasulullah Saw. untuk
menyampaikan dakwah, terlepas dari diterima atau tidaknya dakwah Rasulullah Saw.,
sebagai kewajiban beliau selaku utusan Allah sekaligus menekankan bahwa hak
Allah Swt. adalah memberikan hidayah pada siapa saja yang Dia kehendaki.”
“Salah
satu penyakit hati yang berbahaya adalah hasud. Hasud jika dikombinasikan
dengan sifat ghaflah atau lalai akan
memunculkan sikap sombong.”
“Hasad dan
marah adalah dua hal yang saling berhubungan satu sama lain.”
“Segala
sesuatu memiliki batasan, termasuk kesabaran. Jika sabar tidak memiliki batas,
mungkin Kanjeng Nabi Saw. akan diam saja dan tidak akan memerangi kaum kafir di
Perang Badar.”
“Bersabar
tidak boleh menuruti hawa nafsu tapi harus dengan ilmu.”
“Aku (Oki
Yosi) pernah bertanya kepada Abah: “Bagaimanakah cara kita mengetahui keinginan
yang semata-mata karena Allah dan keinginan yang bersumber dari nafsu?”
Beliau Habib Luthfi bin Yahya menjawab: “Bagi saja keinginan itu menjadi dua, satu untuk
akal dan kedua untuk ilmu. Akal sebagai hakim dan ilmu alat untuk menganalisa
dengan hati sebagai rajanya yang akan mendorong keinginan kita bertindak
semata-mata karena Allah.”
Jumat, 20 Desember 2013
Tradisi Ziarah Nabi Hud AS
Di masa Syekh Abdullah Ba ‘Abbad abad 7 H, ziarah Hud setiap tahunnya diadakan setelah selesai panen kurma. Rombongan beliau pimpin langsung. Kemudian pada masa Sayyid Syekh Abu Bakar bin Salim Al Alawi (w 992 H) musim ziarah Hud ditradisikan setiap tahunnya pada bulan Sya’ban.
Tahwidah adalah lantunan pada waktu
membaca syair-syair yang memberi motivasi untuk berziarah Hud AS.
Biasanya dilakukan setelah acara maulid pada hari Rabu akhir bulan
Rajab.
Setelah selesai, jama’ah membentuk
barisan. Setiap baris terdiri dari 20 hingga 50 orang, dipimpin oleh
seorang nassyad (pemimpin pelantun suara). Mereka melantunkan
syair-syair mengikuti bacaan nassyad, seperti kalimat ‘ya Hud ya
Nabiullah.’ Beberapa hari sebelum ziarah, para pekerja, khususnya
keluarga Ba ‘Abbad, berangkat terlebih dahulu ke tempat ziarah, untuk
memperbaiki tempat yang rusak, seperti masjid, rumah dan jalanan.
Tanggal 27 Rajab, peziarah
diklasifikasikan dalam beberapa rombongan. Setiap rombongan memiliki
ketua. Tugas ketua antara lain menertibkan dan membagi tugas pada setiap
anggota rombongan.
Setelah semuanya siap, mereka berangkat
ke lokasi Makam Nabi Hud ‘alaihis salam. Masyarakat Seiyun, Shibam dan
kawasan barat Shibam berangkat pada tanggal 4 atau 5 Sya’ban. Sedangkan
penduduk Tarim dan kawasan timur Tarim berangkat pada tanggal 7 atau 9
Sya’ban.
Di tengah perjalanan menuju makam Nabi
Hud, banyak hal-hal yang dilakukan para peziarah. Di antaranya ziarah ke
makam-makam yang ada di sepanjang perjalanan. Mereka mengumandangkan
syair-syair yang mengandung makna tawasul kepada para arwah. Juga ketika
rombongan melewati kota dan desa, peziarah menyuarakan julukannya.
Mengingat setiap tempat kota dan desa di Hadhramaut ada julukannya
masing-masing.
Di Syi’ib Hud (lembah kecil Hud),
dibangun tempat-tempat sesuai kebutuhan peziarah selama di sana, berupa
rumah, masjid dan pasar. Setiap kabilah memiliki tempat tinggal
masing-masing yang dibangun seizin keluarga besar Ba ‘Abbad. Sebelum
ziarah ke makam Nabi Hud ‘alaihis salam, semua peziarah mandi di sungai,
dipimpin oleh ketua sukunya (Munshib, Habib atau Syekh). Setelah mandi,
peziarah berebutan ke sisi ketuanya, untuk minum air sungai yang
diambil dengan tangan ketua. Setelah mandi dan minum, mereka
melaksanakan shalat sunnah wudlu’ dua rakaat di Hashah Umar, yaitu
tempat di pinggir sungai yang biasa ditempati shalat oleh para peziarah
sehabis mandi di sungai.
Setelah shalat sunnah wudlu’, mulailah
mereka beriringan menuju makam Nabi Hud ‘alaihis salam. Di tempat antara
makam Nabi Hud ‘alaihis salam dan sungai, mereka berhenti sejenak di
sumur Taslimah. Dengan dipimpin munshib, peziarah mengumandangkan salam
kepada arwah Rasul dan Nabi serta salam kepada para Malaikat. Setelah
selesai, peziarah melanjutkan perjalanannya ke makam Hud ‘alaihis salam.
Sesampai di sana, dalam posisi berdiri di depan makam Nabi Hud, mereka
mengumandangkan salam kepada para arwah Rasul, arwah Nabi dan Malaikat.
Kemudian peziarah duduk membaca surat Hud dan ditutup dengan membaca
Surat al-Fatihah. Setelah selesai, semuanya turun ke tempat naqah, yaitu
tempat yang terletak di bawah makam nabi Hud. Mereka membaca maulid
(sejarah kelahiran dan kehidupan Nabi Muhammad SAW) dan mendengarkan
mau’idzah hasanah. Setelah itu, ritual ziarah selesai dan ditutup dengan
membaca Surat al-Fatihah.
Di sela-sela ziarah, malam harinya, peziarah menampilkan pertunjukannya. Merka juga saling bersilaturrahim satu sama lainnya.
Setelah aktifitas ziarah selesai, para peziarah bergegas pulang ke daerahnya masing dengan tertib. Dimulai dari rombongan Keluarga Alawi, Keluarga Seiyun dan daerah barat Seiyun. Mereka berangkat pulang setelah shalat Ashar tanggal 11 Sya’ban. Sedangkan penduduk Tarim pulang esok harinya pada tanggal 12 Sya’ban. Keluarga bin Syihab dan Syeh Abu Bakar bin Salim pulang tanggal 15 Sya’ban, karena tanggal 14 Sya’ban (malam nisfu sya’ban) mereka membaca doa Sya’ban di makam Nabi Hud ‘alaihis salam.
Setelah aktifitas ziarah selesai, para peziarah bergegas pulang ke daerahnya masing dengan tertib. Dimulai dari rombongan Keluarga Alawi, Keluarga Seiyun dan daerah barat Seiyun. Mereka berangkat pulang setelah shalat Ashar tanggal 11 Sya’ban. Sedangkan penduduk Tarim pulang esok harinya pada tanggal 12 Sya’ban. Keluarga bin Syihab dan Syeh Abu Bakar bin Salim pulang tanggal 15 Sya’ban, karena tanggal 14 Sya’ban (malam nisfu sya’ban) mereka membaca doa Sya’ban di makam Nabi Hud ‘alaihis salam.
Saat pulang, para peziarah biasanya
membawa oleh-oleh untuk keluarga dan tetangganya. Ada yang membagikan
sisa bekal, ada pula yang membeli oleh-oleh di tengah perjalanan. Juga
tak lupa, oleh-oleh untuk anak kecil yang berupa mainan bangunan, unta,
himar (keledai, red) dan baghal (peranakan himar dan keledai, red) yang
terbuat dari tembikar.
__
sumber: indo.hadhramaut.info
Sejarah Hadhramaut
Hadramaut adalah suatu daerah yang terletak di Timur
Tengah, tepatnya di kawasan seluruh pantai Arab Selatan dari mulai Aden
sampai Tanjung Ras al-Hadd. Menurut sebagian orang Arab, Hadramaut
hanyalah sebagian kecil dari Arab Selatan, yaitu daerah pantai di antara
pantai desa-desa nelayan Ain Ba Ma’bad dan Saihut beserta daerah
pegunungan yang terletak di belakangnya. Penamaan Hadramaut menurut
penduduk adalah nama seorang anak dari Qahthan bin Abir bin Syalih bin
Arfahsyad bin Sam bin Nuh yang bernama Hadramaut, yang pada saat ini
nama tersebut disesuaikan namanya dengan dua kata arab hadar dan maut
(menurut sebagian versi).
Ziarah nabi Hud pertama kali dilakukan oleh
al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan setelah beliau wafat, ziarah
tersebut dilakukan oleh anak keturunannya. Habib Abdullah bin Alwi
al-Haddad semasa hidupnya sering berziarah ke makam Nabi Hud. Beliau
sudah tiga puluh kali berziarah ke sana dan beliau lakukan pada setiap
bulan Sya’ban. Dalam ziarah tersebut beliau berangkat bersama semua
anggota kerabat yang tinggal di dekatnya. Beliau tinggal (di dekat
pusara Nabi Hud) selama beberapa hari hingga maghrib menjelang malam
nisfu sya’ban. Beliau menganjurkan kaum muslimin untuk berziarah ke
sana, bahkan beliau mewanti-wanti, “Barangsiapa berziarah ke (makam)
Nabi Hud dan di sana ia menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad
SAW, ia akan mengalami tahun yang baik dan indah.” Menurut sebagian
ulama kasyaf, makam Nabi Hud merupakan tempat penobatan para
waliyullah.Setibanya di syi’ib Nabi Hud (lembah antara dua bukit tempat
pusara nabi Hud), Imam al-Haddad bertemu dengan beberapa orang sayyid
dan waliyullah, sehingga pertemuan itu menjadi majlis pertukaran ilmu
dan pandangan.
Dalam bahasa Ibrani asal nama Hadramaut adalah ‘Hazar Maweth’ yang berdasarkan etimologi, rakyat mengaggapnya berhubungan dengan gagasan “hadirnya kematian” yaitu berkaitan dengan hadirnya Nabi Saleh as ke negeri itu, yang tidak lama kemudian meninggal dunia. Pengertian lain kata Hadramaut menurut prasasti penduduk asli Hadramaut adalah “panas membakar”, sesuai dengan pendapat Moler dalam bukunya Hadramaut, mengatakan bahwa Hadramaut sebenarnya berarti negeri yang panas membakar. Sebuah legenda yang dipercayai masyarakat Hadramaut bahwa negeri ini diberi nama Hadramaut karena dalam negeri tersebut terdapat sebuah pohon yang disebut al-Liban semacam pohon yang baunya menurut kepercayaan mereka sangat mematikan. Oleh karena itu, setiap orang yang datang (hadar) dan menciumnya akan mati (maut).
Dalam bahasa Ibrani asal nama Hadramaut adalah ‘Hazar Maweth’ yang berdasarkan etimologi, rakyat mengaggapnya berhubungan dengan gagasan “hadirnya kematian” yaitu berkaitan dengan hadirnya Nabi Saleh as ke negeri itu, yang tidak lama kemudian meninggal dunia. Pengertian lain kata Hadramaut menurut prasasti penduduk asli Hadramaut adalah “panas membakar”, sesuai dengan pendapat Moler dalam bukunya Hadramaut, mengatakan bahwa Hadramaut sebenarnya berarti negeri yang panas membakar. Sebuah legenda yang dipercayai masyarakat Hadramaut bahwa negeri ini diberi nama Hadramaut karena dalam negeri tersebut terdapat sebuah pohon yang disebut al-Liban semacam pohon yang baunya menurut kepercayaan mereka sangat mematikan. Oleh karena itu, setiap orang yang datang (hadar) dan menciumnya akan mati (maut).
Kota-kota di Hadramaut.
Di antara pelabuhan yang cukup penting di pantai
Hadramaut adalah al-Syihir dan al-Mokalla. Asy-Syihir merupakan bandar
penting yang melakukan perdagangan dengan pantai Afrika Timur, Laut
Merah, Teluk Persia, India dan pesisir Arab Selatan terutama Moskat,
Dzofar dan Aden serta perdagangan dengan bangsa Eropa dan bangsa-bangsa
lainnya. Kota Syibam merupakan salah satu kota penting di negeri itu.
Syibam merupakan kota Arab terkenal yang dibangun menurut gaya
tradisional. Di kota ini terdapat lebih dari 500 buah rumah yang
dibangun rapat, bertingkat empat atau lima. Orang Barat menjulukinya
‘Manhattan of the Desert’. Kota tua ini telah menjadi ibukota Hadramaut
sejak jatuhnya Syabwah (pada abad ke 3 sampai abad ke 16). Karena
dibangun di dasar wadi yang agak tinggi, kota ini rentan terhadap
banjir, seperti yang dialaminya tahun 1532 dan 1533. Kota-kota besar di
sebelah Timur Syibam adalah al-Gorfah, Seiyun, Taribah, al-Goraf,
al-Sowairi, Tarim, Inat dan al-Qasm.
Seiyun merupakan kota terpenting di Hadramaut pada abad ke 19, kota
terbesar yang merupakan ibukota protektorat terletak 320 km dari
Mokalla’. Ia juga sering dijuluki ‘Kota Sejuta Pohon Kurma’ karena
luasnya perkebunan kurma di sekitarnya.
Kota lain di sebelah Timur Syibam adalah Tarim, yang terletak sekitar 35 km di Timur Saiun. Di satu sisi kota ini terlindungi oleh bukit-bukit batu terjal, di sisi lain di kelilingi oleh perkebunan kurma. Sejak dulu, Tarim merupakan pusat Mazhab Syafi’i. Antara abad ke 17 dan abad ke 19 telah terdapat lebih dari 365 masjid. Kota Tarim atau biasa dibaca Trim termasuk kota lama. Nama Tarim, menurut satu riwayat diambil dari nama seorang raja yang bernama Tarim bin Hadramaut. Dia juga disebut dengan Tarim al-Ghanna atau kota Tarim yang rindang karena banyak pepohonan dan sungai. Kota tersebut juga dikenal dengan kota al-Shiddiq karena gubernurnya Ziyad bin Lubaid al-Anshari ketika menyeru untuk membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, maka penduduk Tarim adalah yang pertama mendukungnya dan tidak ada seorang pun yang membantahnya hingga khalifah Abu Bakar mendoakan penduduk Tarim dengan tiga permintaan: (1) agar kota tersebut makmur, (2) airnya berkah, dan (3) dihuni oleh banyak orang-orang saleh. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ba’abad berkata bahwa: “al-Shiddiq akan memberikan syafa’at kepada penduduk Tarim secara khusus”.
Menurut suatu catatan dalam kitab al-Ghurar yang ditulis oleh Syaikh
Muhammad bin Ali bin Alawi Khirid, bahwa keluarga Ba’alawi pindah dari
Desa Bait Jubair ke kota Tarim sekitar tahun 521 hijriyah. Setelah
kepindahan mereka kota Tarim dikenal dengan kota budaya dan ilmu.
Diperkirakan, pada waktu itu di kota Tarim ada sekitar 300 orang ahli
fiqih, bahkan pada barisan yang pertama di masjid agung kota Tarim
dipenuhi oleh ulama fiqih kota tersebut. Adapun orang pertama dari
keluarga Ba’alawi yang hijrah ke kota Tarim adalah Syaikh Ali bin Alwi
Khali’ Qasam dan saudaranya Syaikh Salim, kemudian disusul oleh keluarga
pamannya yaitu Bani Jadid dan Bani Basri.
Diceritakan bahwa pada kota Tarim terdapat tiga keberkahan: (1) keberkahan pada setiap masjidnya, (2) keberkahan pada tanahnya, (3) keberkahan pada pergunungannya. Keberkahan masjid yang dimaksud adalah setiap masjid di kota Tarim pada waktu sesudah kepindahan Ba’alawi menjadi universital-universitas yang melahirkan ulama-ulama terkenal pada masanya. Di antara masjid-masjid di kota Tarim yang bersejarah ialah masjid Bani Ahmad yang kemudian dikenal dengan masjid Khala’ Qasam setelah beliau berdomisili di kota tersebut. Masjid tersebut dibangun dengan batu, tanah dan kayu yang diambil dari desa Bait Jubair karena tanah dari desa tersebut dikenal sangat bagus, kemudian masjid tersebut dikenal dengan masjid Ba’alawi. Bangunan masjid Ba’alawi nyaris sebagian tiangnya roboh dan direnovasi oleh Muhammad Shahib Mirbath. Pada awal abad ke sembilan hijriyah, Syaikh Umar Muhdhar merenovasi kembali bagian depan dari masjid tersebut.
Naqib dan Munsib
Di lembah yang terletak antara Syibam dan Tarim dengan Saiun di antaranya terdapat lebih dari sepertiga penduduk Hadramaut. Dari sini pula kebanyakan orang Arab di Indonesia. Di antara penduduk Hadramaut terdapat kaum Alawiyin yang lebih dikenal dengan golongan Sayid. Golongan Sayid sangat besar jumlah anggotanya di Hadramaut terutama di kota Tarim dan Saiun, mereka membentuk kebangsawanan beragama yang sangat dihormati, sehingga secara moral sangat berpengaruh pada penduduk. Mereka terbagi dalam keluarga-keluarga (qabilah), dan banyak di antaranya yang mempunyai pemimpin turun temurun yang bergelar munsib.
Munsib merupakan perluasan dari tugas ‘Naqib’ yang mulai digunakan pada zaman Imam Ahmad al-Muhajir sampai zaman Syekh Abu Bakar bin Salim. Seorang ‘naqib’ adalah mereka yang terpilih dari anggota keluarga yang paling tua dan alim, seperti Syekh Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf. Ketika terpilih menjaga ‘naqib’, beliau mengajukan beberapa persyaratan, diantaranya:
Kepala keluarga Alawiyin dimohon kesediaannya untuk menikahkan anak-anak perempuan mereka dari keluarga kaya dengan anak laki-laki dari keluarga miskin, begitu pula sebaliknya untuk menikahkan anak laki-laki dari keluarga kaya dengan anak perempuan dari keluarga miskin.
Menurunkan besarnya mahar pernikahan dari 50 uqiyah menjadi 5 uqiyah, sebagaimana perintah shalat dari 50 waktu menjadi 5 waktu.
Tidak menggunakan tenaga binatang untuk menimba air secara berlebihan.
Setelah Syekh Umar Muhdhar wafat, jabatan ‘naqib’ dipegang oleh Syekh Abdullah Alaydrus bin Abu Bakar al-Sakran, Syekh Abu Bakar al-Adeni Alaydrus, Sayid Ahmad bin Alwi Bajahdab, Sayid Zainal Abidin Alaydrus.
Menurut Syekh Ismail Yusuf al-Nabhani dalam kitabnya ‘Al-Saraf al-Muabbad Li Aali Muhammad’ berkata: “Salah satu amalan yang khusus yang dikerjakan oleh keluarga Rasulullah, adanya ‘naqib’ yang dipilih di antara mereka”. Naqib dibagi menjadi dua, yaitu:
Naqib Umum ( al-Naqib al-Am ), dengan tugas:
Menyelesaikan pertikaian yang terjadi di antara keluarga
Menjadi ayah bagi anak-anak dari keluarga yatim
Menentukan dan menjatuhkan hukuman kepada mereka yang telah membuat suatu kesalahan atau menyimpang dari hukum agama.
Mencarikan jodoh dan menikahkan perempuan yang tidak punya wali.
Naqib khusus (al-Naqib al-khos), dengan tugas:
Menjaga silsilah keturunan suatu kaum
Mengetahui dan memberi legitimasi terhadap nasab seseorang.
Mencatat nama-nama anak yang baru lahir dan yang meninggal.
Memberikan pendidikan akhlaq kepada kaumnya.
Menanamkan rasa cinta kepada agama dan melarang untuk berbuat yang tidak baik.
Menjaga keluarga dari perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.
Menjaga keluarga bergaul kepada mereka yang mempunyai akhlaq rendah demi kemuliaan diri dan keluarganya.
Mengajarkan dan mengarahkan keluarga tentang kebersihan hati
Menjaga orang yang lemah dan tidak menzaliminya.
Menahan perempuan-perempuan mereka menikah kepada lelaki yang tidak sekufu’.
Menjaga harta yang telah diwakafkan dan membagi hasilnya berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Bertindak tegas dan adil kepada siapa saja yang berbuat kesalahan.
Dewan naqabah terdiri dari sepuluh anggota yang dipilih. Setiap anggota mewakili kelompok keluarga atau suku dan dikukuhkan lima orang sesepuh suku itu dan menjamin segala hak dan kewajiban yang dibebankan atas wakil mereka. Dewan yang terdiri dari sepuluh anggota ini mengatur segala sesuatu yang dipandang perlu sesuai kepentingan, dan bersesuaian pula dengan ajaran syari’at Islam serta disetujui oleh pemimpin umum. Apabila keputusan telah ditetapkan maka diajukanlah kepada pemimpin umum (naqib) untuk disahkan dan selanjutnya dilaksanakan.
Dari waktu ke waktu tugas ‘naqib’ semakin berat, hal itu disebabkan banyak keluarga dan mereka menyebar ke berbagai negeri yang memerlukan perjalanan berhari-hari untuk bertemu ‘naqib’ jika mereka hendak bertemu untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Untuk meringankan tugas ‘naqib’ tersebut, maka terbentuklah ‘munsib’. Para munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarganya. Jabatan munsib diterima secara turun menurun, dan di antara tugasnya selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa, menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka yang memerlukan. Sebagaian besar munsib Alawiyin muncul pada abad sebelas dan abad ke dua belas hijriyah, diantaranya keluarga bin Yahya mempunyai munsib di al-Goraf, keluarga al-Muhdar di al-Khoraibah, keluarga al-Jufri di dzi-Asbah, keluarga al-Habsyi di khala’ Rasyid, keluarga bin Ismail di Taribah, keluarga al-Aidrus di al-Hazm, Baur, Salilah, Sibbi dan ar-Ramlah, keluarga Syekh Abu Bakar di Inat, keluarga al-Attas di al-Huraidah, keluarga al-Haddad di al-Hawi dan keluarga Aqil bin Salim di al-Qaryah.
.
Keluarga golongan sayid.
.
Keluarga golongan Sayid yang berada di Hadramaut adalah:
Aal-Ibrahim
Al-Ustadz al-A’zhom
Asadullah fi Ardih
Aal-Ismail
Aal-Bin Ismail
Al-A’yun
Aal-Albar
Aal-Battah
Aal-Albahar
Aal-Barakat
Aal-Barum
Aal-Basri
Aal-Babathinah
Aal-Albaiti
Aal-Babarik
Aal-Albaidh
Al-Turobi
Aal-Bajahdab
Jadid
Al-Jaziroh
Aal-Aljufri
Jamalullail
Aal-Bin Jindan
Al-Jannah
Aal-Junaid
Aal-Aljunaid Achdhor
Aal-Aljailani
Aal-Hamid
Aal-Alhamid
Aal-Alhabsyi
Aal-Alhaddad
Aal-Bahasan
Aal-Bahusein
Hamdun
Hamidan
Aal-Alhiyyid
Aal-Khirid
Aal-Balahsyasy
Aal-Khomur
Aal-Khaneiman
Aal-Khuun
Aal-Maula Khailah
Aal-Dahum
Maula al-Dawilah
Aal-Aldzahb
Aal-Aldzi’bu
Aal-Baraqbah
Aal-Ruchailah
Aal-Alrusy
Aal-Alrausyan
Aal-Alzahir
Aal-Alsaqqaf
Al-Sakran
Aal-Bin Semith
Aal-Bin Semithan
Aal-Bin Sahal
Aal-Assiri
Aal-Alsyatri
Aal-Syabsabah
Aal-Alsyili
Aal-Basyamilah
Aal-Syanbal
Aal-Syihabuddin
Al-Syahid
Aal-Basyaiban
Al-Syaibah
Aal-Syaikh Abi Bakar
Aal-Bin Syaichon
Shahib al-Hamra’
Shahib al-Huthoh
Shahib al-Syubaikah
Shahib al-Syi’ib
Shahib al-Amaim
Shahib Qasam
Shahib Mirbath
Shahib Maryamah
Al-Shodiq
Aal-Alshofi Alsaqqaf
Aal-Alshofi al-Jufri
Aal-Basuroh
Aal-Alshulaibiyah
Aal-Dhu’ayyif
Aal-Thoha
Aal-Al thohir
Aal-Ba’abud
Al-Adeni
Aal-Al atthas
Aal-Azhamat Khan
Aal-Aqil
Aal-Ba’aqil
Aal-Ba’alawi
Aal-Ali lala
Aal-Ba’umar
Aal-Auhaj
Aal-Aydrus
Aal-Aidid
Al-Ghozali
Aal-Alghozali
Aal-Alghusn
Aal-Alghumri
Aal-Balghoits
Aal-Alghaidhi
Aal-Fad’aq
Aal-Bafaraj
Al-Fardhi
Aal-Abu Futaim
Al-Faqih al-Muqaddam
Aal-Bafaqih
Aal-Faqih
Aal-Bilfaqih
Al-Qari’
Al-Qadhi
Aal-Qadri
Aal-Quthban
Aal-Alkaf
Kuraikurah
Aal-Kadad
Aal-Karisyah
Aal-Mahjub
Al-Muhdhar
Aal-Almuhdhar
Aal-Mudhir
Aal-Mudaihij
Abu Maryam
Al-Musawa
Aal-Almusawa
Aal-Almasilah
Aal-Almasyhur
Aal-Masyhur Marzaq
Aal-Musyayakh
Aal-Muzhahhir
Al-Maghrum
Aal-Almaqdi
Al-Muqlaf
Aal-Muqaibil
Aal-Maknun
Aal-Almunawwar
Al-Nahwi
Aal-Alnadhir
Al-Nuqa’i
Aal-Abu Numai
Al-Wara’
Aal-Alwahath
Aal-Hadun
Aal-Alhadi
Aal-Baharun
Aal-Bin Harun
Aal-Hasyim
Aal-Bahasyim
Aal-Bin Hasyim
Aal-Alhaddar
Aal-Alhinduan
Aal-Huud
Aal-Bin Yahya
Keluarga Alawiyin di atas adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, sedangkan yang bukan dari keturunan Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, adalah:
Aal-Hasni
Aal-Barakwan
Aal-Anggawi
Aal-Jailani
Aal-Maqrabi
Aal-Bin Syuaib
Aal-Musa al-Kadzim
Aal-Mahdali
Aal-Balakhi
Aal-Qadiri
Aal-Rifai
Aal-Qudsi
Sedangkan yang tidak berada di Indonesia kurang lebih berjumlah 40 qabilah, diantaranya qabilah Abu Numai al-Hasni yaitu leluhur Almarhum Raja Husein (Yordania) dan sepupunya Almarhum Raja Faisal (mantan raja Iraq) dan qabilah al-Idrissi, yaitu leluhur mantan raja-raja di Tunisia dan Libya.
__
sumber: indo.hadhramaut.info
Seiyun
Kota lain di sebelah Timur Syibam adalah Tarim, yang terletak sekitar 35 km di Timur Saiun. Di satu sisi kota ini terlindungi oleh bukit-bukit batu terjal, di sisi lain di kelilingi oleh perkebunan kurma. Sejak dulu, Tarim merupakan pusat Mazhab Syafi’i. Antara abad ke 17 dan abad ke 19 telah terdapat lebih dari 365 masjid. Kota Tarim atau biasa dibaca Trim termasuk kota lama. Nama Tarim, menurut satu riwayat diambil dari nama seorang raja yang bernama Tarim bin Hadramaut. Dia juga disebut dengan Tarim al-Ghanna atau kota Tarim yang rindang karena banyak pepohonan dan sungai. Kota tersebut juga dikenal dengan kota al-Shiddiq karena gubernurnya Ziyad bin Lubaid al-Anshari ketika menyeru untuk membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, maka penduduk Tarim adalah yang pertama mendukungnya dan tidak ada seorang pun yang membantahnya hingga khalifah Abu Bakar mendoakan penduduk Tarim dengan tiga permintaan: (1) agar kota tersebut makmur, (2) airnya berkah, dan (3) dihuni oleh banyak orang-orang saleh. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ba’abad berkata bahwa: “al-Shiddiq akan memberikan syafa’at kepada penduduk Tarim secara khusus”.
Kota Tarim
Diceritakan bahwa pada kota Tarim terdapat tiga keberkahan: (1) keberkahan pada setiap masjidnya, (2) keberkahan pada tanahnya, (3) keberkahan pada pergunungannya. Keberkahan masjid yang dimaksud adalah setiap masjid di kota Tarim pada waktu sesudah kepindahan Ba’alawi menjadi universital-universitas yang melahirkan ulama-ulama terkenal pada masanya. Di antara masjid-masjid di kota Tarim yang bersejarah ialah masjid Bani Ahmad yang kemudian dikenal dengan masjid Khala’ Qasam setelah beliau berdomisili di kota tersebut. Masjid tersebut dibangun dengan batu, tanah dan kayu yang diambil dari desa Bait Jubair karena tanah dari desa tersebut dikenal sangat bagus, kemudian masjid tersebut dikenal dengan masjid Ba’alawi. Bangunan masjid Ba’alawi nyaris sebagian tiangnya roboh dan direnovasi oleh Muhammad Shahib Mirbath. Pada awal abad ke sembilan hijriyah, Syaikh Umar Muhdhar merenovasi kembali bagian depan dari masjid tersebut.
Naqib dan Munsib
Di lembah yang terletak antara Syibam dan Tarim dengan Saiun di antaranya terdapat lebih dari sepertiga penduduk Hadramaut. Dari sini pula kebanyakan orang Arab di Indonesia. Di antara penduduk Hadramaut terdapat kaum Alawiyin yang lebih dikenal dengan golongan Sayid. Golongan Sayid sangat besar jumlah anggotanya di Hadramaut terutama di kota Tarim dan Saiun, mereka membentuk kebangsawanan beragama yang sangat dihormati, sehingga secara moral sangat berpengaruh pada penduduk. Mereka terbagi dalam keluarga-keluarga (qabilah), dan banyak di antaranya yang mempunyai pemimpin turun temurun yang bergelar munsib.
Munsib merupakan perluasan dari tugas ‘Naqib’ yang mulai digunakan pada zaman Imam Ahmad al-Muhajir sampai zaman Syekh Abu Bakar bin Salim. Seorang ‘naqib’ adalah mereka yang terpilih dari anggota keluarga yang paling tua dan alim, seperti Syekh Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf. Ketika terpilih menjaga ‘naqib’, beliau mengajukan beberapa persyaratan, diantaranya:
Kepala keluarga Alawiyin dimohon kesediaannya untuk menikahkan anak-anak perempuan mereka dari keluarga kaya dengan anak laki-laki dari keluarga miskin, begitu pula sebaliknya untuk menikahkan anak laki-laki dari keluarga kaya dengan anak perempuan dari keluarga miskin.
Menurunkan besarnya mahar pernikahan dari 50 uqiyah menjadi 5 uqiyah, sebagaimana perintah shalat dari 50 waktu menjadi 5 waktu.
Tidak menggunakan tenaga binatang untuk menimba air secara berlebihan.
Setelah Syekh Umar Muhdhar wafat, jabatan ‘naqib’ dipegang oleh Syekh Abdullah Alaydrus bin Abu Bakar al-Sakran, Syekh Abu Bakar al-Adeni Alaydrus, Sayid Ahmad bin Alwi Bajahdab, Sayid Zainal Abidin Alaydrus.
Menurut Syekh Ismail Yusuf al-Nabhani dalam kitabnya ‘Al-Saraf al-Muabbad Li Aali Muhammad’ berkata: “Salah satu amalan yang khusus yang dikerjakan oleh keluarga Rasulullah, adanya ‘naqib’ yang dipilih di antara mereka”. Naqib dibagi menjadi dua, yaitu:
Naqib Umum ( al-Naqib al-Am ), dengan tugas:
Menyelesaikan pertikaian yang terjadi di antara keluarga
Menjadi ayah bagi anak-anak dari keluarga yatim
Menentukan dan menjatuhkan hukuman kepada mereka yang telah membuat suatu kesalahan atau menyimpang dari hukum agama.
Mencarikan jodoh dan menikahkan perempuan yang tidak punya wali.
Naqib khusus (al-Naqib al-khos), dengan tugas:
Menjaga silsilah keturunan suatu kaum
Mengetahui dan memberi legitimasi terhadap nasab seseorang.
Mencatat nama-nama anak yang baru lahir dan yang meninggal.
Memberikan pendidikan akhlaq kepada kaumnya.
Menanamkan rasa cinta kepada agama dan melarang untuk berbuat yang tidak baik.
Menjaga keluarga dari perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.
Menjaga keluarga bergaul kepada mereka yang mempunyai akhlaq rendah demi kemuliaan diri dan keluarganya.
Mengajarkan dan mengarahkan keluarga tentang kebersihan hati
Menjaga orang yang lemah dan tidak menzaliminya.
Menahan perempuan-perempuan mereka menikah kepada lelaki yang tidak sekufu’.
Menjaga harta yang telah diwakafkan dan membagi hasilnya berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Bertindak tegas dan adil kepada siapa saja yang berbuat kesalahan.
Dewan naqabah terdiri dari sepuluh anggota yang dipilih. Setiap anggota mewakili kelompok keluarga atau suku dan dikukuhkan lima orang sesepuh suku itu dan menjamin segala hak dan kewajiban yang dibebankan atas wakil mereka. Dewan yang terdiri dari sepuluh anggota ini mengatur segala sesuatu yang dipandang perlu sesuai kepentingan, dan bersesuaian pula dengan ajaran syari’at Islam serta disetujui oleh pemimpin umum. Apabila keputusan telah ditetapkan maka diajukanlah kepada pemimpin umum (naqib) untuk disahkan dan selanjutnya dilaksanakan.
Dari waktu ke waktu tugas ‘naqib’ semakin berat, hal itu disebabkan banyak keluarga dan mereka menyebar ke berbagai negeri yang memerlukan perjalanan berhari-hari untuk bertemu ‘naqib’ jika mereka hendak bertemu untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Untuk meringankan tugas ‘naqib’ tersebut, maka terbentuklah ‘munsib’. Para munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarganya. Jabatan munsib diterima secara turun menurun, dan di antara tugasnya selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa, menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka yang memerlukan. Sebagaian besar munsib Alawiyin muncul pada abad sebelas dan abad ke dua belas hijriyah, diantaranya keluarga bin Yahya mempunyai munsib di al-Goraf, keluarga al-Muhdar di al-Khoraibah, keluarga al-Jufri di dzi-Asbah, keluarga al-Habsyi di khala’ Rasyid, keluarga bin Ismail di Taribah, keluarga al-Aidrus di al-Hazm, Baur, Salilah, Sibbi dan ar-Ramlah, keluarga Syekh Abu Bakar di Inat, keluarga al-Attas di al-Huraidah, keluarga al-Haddad di al-Hawi dan keluarga Aqil bin Salim di al-Qaryah.
.
Keluarga golongan sayid.
.
Keluarga golongan Sayid yang berada di Hadramaut adalah:
Aal-Ibrahim
Al-Ustadz al-A’zhom
Asadullah fi Ardih
Aal-Ismail
Aal-Bin Ismail
Al-A’yun
Aal-Albar
Aal-Battah
Aal-Albahar
Aal-Barakat
Aal-Barum
Aal-Basri
Aal-Babathinah
Aal-Albaiti
Aal-Babarik
Aal-Albaidh
Al-Turobi
Aal-Bajahdab
Jadid
Al-Jaziroh
Aal-Aljufri
Jamalullail
Aal-Bin Jindan
Al-Jannah
Aal-Junaid
Aal-Aljunaid Achdhor
Aal-Aljailani
Aal-Hamid
Aal-Alhamid
Aal-Alhabsyi
Aal-Alhaddad
Aal-Bahasan
Aal-Bahusein
Hamdun
Hamidan
Aal-Alhiyyid
Aal-Khirid
Aal-Balahsyasy
Aal-Khomur
Aal-Khaneiman
Aal-Khuun
Aal-Maula Khailah
Aal-Dahum
Maula al-Dawilah
Aal-Aldzahb
Aal-Aldzi’bu
Aal-Baraqbah
Aal-Ruchailah
Aal-Alrusy
Aal-Alrausyan
Aal-Alzahir
Aal-Alsaqqaf
Al-Sakran
Aal-Bin Semith
Aal-Bin Semithan
Aal-Bin Sahal
Aal-Assiri
Aal-Alsyatri
Aal-Syabsabah
Aal-Alsyili
Aal-Basyamilah
Aal-Syanbal
Aal-Syihabuddin
Al-Syahid
Aal-Basyaiban
Al-Syaibah
Aal-Syaikh Abi Bakar
Aal-Bin Syaichon
Shahib al-Hamra’
Shahib al-Huthoh
Shahib al-Syubaikah
Shahib al-Syi’ib
Shahib al-Amaim
Shahib Qasam
Shahib Mirbath
Shahib Maryamah
Al-Shodiq
Aal-Alshofi Alsaqqaf
Aal-Alshofi al-Jufri
Aal-Basuroh
Aal-Alshulaibiyah
Aal-Dhu’ayyif
Aal-Thoha
Aal-Al thohir
Aal-Ba’abud
Al-Adeni
Aal-Al atthas
Aal-Azhamat Khan
Aal-Aqil
Aal-Ba’aqil
Aal-Ba’alawi
Aal-Ali lala
Aal-Ba’umar
Aal-Auhaj
Aal-Aydrus
Aal-Aidid
Al-Ghozali
Aal-Alghozali
Aal-Alghusn
Aal-Alghumri
Aal-Balghoits
Aal-Alghaidhi
Aal-Fad’aq
Aal-Bafaraj
Al-Fardhi
Aal-Abu Futaim
Al-Faqih al-Muqaddam
Aal-Bafaqih
Aal-Faqih
Aal-Bilfaqih
Al-Qari’
Al-Qadhi
Aal-Qadri
Aal-Quthban
Aal-Alkaf
Kuraikurah
Aal-Kadad
Aal-Karisyah
Aal-Mahjub
Al-Muhdhar
Aal-Almuhdhar
Aal-Mudhir
Aal-Mudaihij
Abu Maryam
Al-Musawa
Aal-Almusawa
Aal-Almasilah
Aal-Almasyhur
Aal-Masyhur Marzaq
Aal-Musyayakh
Aal-Muzhahhir
Al-Maghrum
Aal-Almaqdi
Al-Muqlaf
Aal-Muqaibil
Aal-Maknun
Aal-Almunawwar
Al-Nahwi
Aal-Alnadhir
Al-Nuqa’i
Aal-Abu Numai
Al-Wara’
Aal-Alwahath
Aal-Hadun
Aal-Alhadi
Aal-Baharun
Aal-Bin Harun
Aal-Hasyim
Aal-Bahasyim
Aal-Bin Hasyim
Aal-Alhaddar
Aal-Alhinduan
Aal-Huud
Aal-Bin Yahya
Keluarga Alawiyin di atas adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, sedangkan yang bukan dari keturunan Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, adalah:
Aal-Hasni
Aal-Barakwan
Aal-Anggawi
Aal-Jailani
Aal-Maqrabi
Aal-Bin Syuaib
Aal-Musa al-Kadzim
Aal-Mahdali
Aal-Balakhi
Aal-Qadiri
Aal-Rifai
Aal-Qudsi
Sedangkan yang tidak berada di Indonesia kurang lebih berjumlah 40 qabilah, diantaranya qabilah Abu Numai al-Hasni yaitu leluhur Almarhum Raja Husein (Yordania) dan sepupunya Almarhum Raja Faisal (mantan raja Iraq) dan qabilah al-Idrissi, yaitu leluhur mantan raja-raja di Tunisia dan Libya.
__
sumber: indo.hadhramaut.info
Langganan:
Postingan (Atom)


